Tegakkan Iman Menghadapi Tantangan Zaman


Tegakkan Iman Menghadapi Tantangan Zaman

Saudaraku Kaum Muslimin yang Berbahagia,

Telah menjadi keyakinan hidup kita sesungguhnya bahwa kekuatan Iman, dan menegakkan peribadi yang mulia amat diperlukan dalam mengadapi perubahan yang tengah berlaku. Perubahan itu benar benar menguji siapa yang kuat imannya dan siapa pula yang lemah imannya. Sungguh hakikinya hidup didunia adalah “perjuangan menegakkan iman”. Perjuangan iman itu wajib dilakukan karena ada lawan yang selalu ngin mencampakkan iman itu di dada seorang hamba.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ
Artinya ; “Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia.”  (HR At-Tirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Haakim). Taqwa kepada Allah maknanya adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, sebagai bukti perjuangan menegakkan iman itu.

    Kini kita hidup dan berdiam di sebuah kota, yang dihuni oleh masyarakat beradat dan kebanyakannya muslim. Karena perubahan zaman dan pergantian musim mulai pula dimasyhurkan perilaku maksiyat. Perjuangan menegakkan iman menjadi amat penting menghadapi gelombang kemaksiatan yang semakin meningkat.Dimana mana mulai tumbuh tempat tempat makshiyat yang sesungguhnya dan kota kitapun berkembang menjadi padang makshiyat. Dan makin parah ketika ibadah dan shalat mulai pula dilalaikan.

   

Ibnu Mardawih RA telah mengeluarkan daripada Ibnu Abbas R.A katanya: Rasullullah SAW telah mengerjakan Haji Perpisahan. Baginda membuat halaqah dihadapan pintu Kaabah, Baginda bersabda: “Wahai Manusia! Mahukah kamu beritahu alamat Qiamat?”, Maka bangunlah Salman R.A sambil berkata: Sila beritahu kami, ayah dan emak saya menebus (membela) diri Tuan. Baginda bersabda : Setengah daripada alamat Qiamat itu adalah:

Mencuaikan (melalaikan) Sembahyang.
Dan menurut hawa nafsu (melakukan maksiat).
Dan memuliakan orang berduit (hartawan).

فَقَلَ سَلْمَانُ: وَيَكُوْنُ هَـٰذَا يَا رَسُوْل اللهِ؟

قَالَ: نَعَمْ وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، فَعِنْدَ ذٰلِكَ يَا سَلْمَانُ

Salman R.A bertanya : Apakah berlaku perkara ini? Baginda menjawab : Ya demi Allah SWT yang mana diriku ditanganNya

تَكُوْنُ اَلزَّكَاةُ مَغْرَمًا وَالْفَىءُ مَغْنَمًا،

 وَيُصَدَّقُ الْكَاذَّبُ،  وَيُكاذ ِبُ الصَّادِ قُ،

 وَيُؤْتَمَنُ الْخَائِنُ،  وَيَخُونُ الأَمِيْنُ،

 وَيَتَكَلَّمُ الرُّوبَيْضَةُ،

Ketika itu wahai Salman R.A:

Dan Zakat menjadi bebanan hutang, dan Hasil kekayaan yang diambil menurut cara orang kafir menjadi rebutan.
Dan yang dipercayai kata-kata pembohong.

Dan didustakan (ditolak) kata-kata orang benar.

Dan memberikan amanah kepada orang yang khianat.

Dan dikhianatkan orang yang amanah.

Dan bercakap dikhalayak ramai oleh orang yang tidak sepatutnya bercakap    (ar -Rubaiydhah).

  قَالَ: وَمَا الرُّوَبَيْضَةُ؟

 قَالَ: يَتَكَلََّمُ فِيْ النَّاسِ مَنْ لَّمْ يَتَكَلَّمُ،

 وَيُنْكِرُ الْحَقِّ تِسْعَةَ أَعْشَارِهِمْ،

 وَيَذْهَبُ الإِسْلاَمُ فَلاَ بَيْقىٰ إِلاَّ اسْمُةُ،

 وَيَذْهَبُ الْقُرْآنُ فَلاَ بَيْقىٰ إِلاَّ رَسْمُهُ،

 فَعِنْدَ ذٰلِكَ تُزَخْرَفُ الْمَسَاجِدُ كَمَا تُزَخْرَفُ الْكَنَائِسْ وَالْبَيْعُ،  وَتَطُوْلُ الْمَنآئِرُ،  

 وَتَكْثُرُ الصُّفُوْفُ، مَعَ قُلُوْبٍ مُتَبَاغِضَةٍ،

 وأََلْسُنٍ مُخْتَلِفَةٍ،  وَأَهْوَآءٍ جَمَّةٍ.

Dan bercakap dikhalayak ramai oleh orang yang tidak sepatutnya bercakap.
Dan ditolak akan kebenaran Al-Quran dan Sunnah oleh 9 dari 10 mereka.
Dan lenyaplah Islam, hanya tinggal namanya sahaja.
Dan Al-Quran diabaikan kehendak dan tuntutannya, Hanya tinggal tulisannya sahaja.
Dan ketika itu dihiaskan masjid sepertimana dihiaskan gereja Kristian dan Kuil Yahudi.
Dan ditinggikan binaan menara masjid.
Dan akan ramai orang yang mengunjungi masjid tetapi hati mereka saling benci membenci.
Dan mereka bertengkar (bertikam lidah diluar sunnah).
Dan mereka berkumpul untuk hawa’ nafsu.

قَالَ سَلْمَانُ: وَيَكُوْنُ ذٰلِكَ يَارَسُوْلَ الله؟

قَالَ:نَعَمْ وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، عِنْدَ ذٰلِكَ يَا سَلْمََانُ

Salman R.A lagi: Apakah perkara ini akan berlaku demikian itu, wahai Rasulullah SAW?

Baginda menjawab: Ya demi Allah SAW yang mana diriku ditanganNya:

يَكُوْنُ الْمُؤْمِنُ فِيْهِمْ أَذَلَّ مِنَ الأَمِة

يَذُوْبُ قَلْبُهُ فِيْ جَوْفِهِ كَمَا يَذُوْبُ الْمِلحُ فِيْ الْمَاءِ مِمَّا يَرٰى مِنَ الْمَنْكَرِفَلاَ يَسْتَطِيْعَ اَنْ يُغَيِّرَهُ،

Ketika itu keadaan orang mukmin lebih hina daripada hamba sahaya perempuan.

Hancur hatinya bagai hancurnya garam dalam air kerana terlalu sedih melihat amalan mungkar yang berlaku yang tidak berdaya disekat dan diubahmya.

 

    Memang pembangunan masjid semakin bertambah. Hanya saja pembangunan masjid belum diiringi ramai jamaahnya yang menjadi bagian terpenting menegakkan iman untuk membendung kemaksiatan dan keonaran.

Tepat sekali perkataan Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi wa sallam

 “ Berbahagialah orang yang dapat mengoreksi dirinya sendiri, sebelum dia mengoreksi orang lain.”

    Mukmin yang baik selalu mengajari diri dengan akhlaq yang baik dan ibadah teratur. Inilah kekuatan menghadapi maksiat. Tanpa itu mustahil kita akan kuat dan berdaya. Dalam menempuh jalan kehidupan selalu ada bisikan kearah baik, dan ada pula godaan lebih kuat kepada yang buruk.

Disini pentingnya bimbingan wahyu Allah;

“  Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (QS.5,Al-Maidah:105).

Melatih diri menjadi orang Mukmin memang payah. Keunggulan ada pada kuat dan teguhnya iman jua. Alquran tidak bangga karena banyak bilangan. Namun lupa kualitas diri.

Rasulullah bersabda ;

 “Menyeru kepadamu musuh laksana serbuan semut lelatu memakan kayu mumuk. Lalu orang bertanya ; “Apakah karena kita sedikit pada waktu itu, Ya Rasulullah? Beliau menjawab; “Bahkan kamu pada waktu itu banyak sekali, tetapi laksana buihnya air bah waktu banjir saja. Telah dicabut oleh Allah Ta’ala dari hati musuh-musuh kamu “rasa segan” kepada kamu dan kamu kian lama kian lemah. Lalu mereka bertanya lagi; “Apakah penyebab kami jadi lemah, Ya Rasulullah?” Beliau menjawab; “Karena cintamu telah lekat kepada dunia dan kamupun menjadi takut akan mati”. (HR.Imam Ahmad).

Demikianlah keadaan kita kini. Bilangan banyak. Nilai tidak ada. Menjadi budak hawa nafsu syahwat. Berlomba mengejar kekayaan, walaupun tidak halal. Mulut untuk mengatakan yang benar telah disumbat. Kita kehilangan agama dan kehilangan budi.

 “Dan apabila Kami telah bermaksud hendak merusakkan suatu negeri, maka Kami beri kuasalah orang orang yang ingin hidup mewah, lalu mereka membuat fasiq dan durhaka padanya. Lantaran itu pastilah berlaku pada mereka kehendak Tuhan, lalu Kami hancurkanlah mereka sehancur-hancurnya.” (QS.Al Isra’:16).

Dalam kalangan kaum muslimin memang masih ada orang yang ikhlas menegakkan Agama karena Allah. Tetapi, karena lingkungan sekeliling telah hancur, masyarakat tidak peduli hakikat ajaran agama. Maka orang orang yang ikhlas itu tersisih ketepi. Agama mulai dianggap ketingalan zaman. Agama hanya jadi buah bibir, bukan buah hati. Padahal Islam adalah agama yang mewajibkan kita beramar ma’ruf bernahyi munkar. Mewajibkan kita menyeru dan mengajak berbuat yang baik. Melarang dari berbuat jahat. Tidaklah takut dan cemas kepada makhluk dalam menyatakan sesuatu yang diyakini benar. Tempat takut satusatunya hanya semata mata Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena akan tiba masanya kiamat menjelang.

Dan (sebaliknya) orang-orang yang mau menerima petunjuk (kejalan yang benar), Allah menambahi mereka dengan hidayah petunjuk serta  memberikan balasan (dorongan untuk mereka) bertaqwa.
(Kiranya golongan yang ingkar masih tidak mahu menerima peringatan yang diberi kepadanya) maka tidak ada lagi yang mereka tunggu melainkan saat kiamat yang akan datang kepada mereka secara mengejut, kerana sesungguhnya telah lahirlah tanda-tanda kedatangannya. Kalaulah demikian, maka bagaimanakah mereka dapat menerima peringatan yang diberi kepada mereka – apabila saat kiamat itu datang kepada mereka?
Maka tetapkanlah pengetahuanmu dan keyakinanmu (wahai Muhammad) ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (tiada Tuhan yang berhak disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan kepada-Nya bagi salah silap yang engkau lakukan dan bagi (dosa) orang-orang yang beriman (mukmin) — laki-laki dan perempuan; dan (ingatlah) Allah mengetahui akan keadaan gerak-gerik kamu (di dunia) dan (tempat tinggal) keadaan penetapan kamu (di akhirat). (QS.Muhammad ayat 17-19).

Kepercayaan kepada satu Tuhan menempatkan takut hanyalah kepada Dia, yang memberi makan dan minum. Yang memberi kehidupan dan tempat kembali hanyalah Dia. Sehingga terasalah tanggung jawab besar dalam menegakkan kebenaran dan menolak segala perbuatan munkar.

Barangsiapa diantara kamu ada melihat sesuatu perbuatan yang munkar, hendaklah tegur dengan tangannya. Jika tidak sanggup menegur dengan tangan, hendaklah tegur dengan lidahnya dan jika tidak sanggup pula menegur dengan lidah, hendaklah dengan hati. Tetapi dengan hati itu adalah yang selemah lemah iman.”.

Inilah yang terjadi. Maka tiada lain upaya yang tersisa adalah kembali “menegakkan Iman” dari diri dan keluarga serta lingkungan kecil dan besar agar kemulian Muslim tidak hilang dari negeri ini.

 Ya Tuhanku aku ini lemah, maka kuatkanlah; saya ini rendah maka muliakanlah; saya ini miskin, maka kayakanlah saya.”   

“ Wahai umat manusia, bertaqwalah kepada Tuhan kamu! Sesungguhnya gempa hari kiamat itu suatu perkara Yang amat besar. Pada hari kamu melihat (peristiwa-peristiwa Yang mengerikan) itu, tiap-tiap ibu penyusu akan melupakan anak Yang disusukannya, dan tiap-tiap perempuan Yang mengandung akan gugurkan anak Yang dikandungnya; dan Engkau akan melihat manusia mabuk, padahal mereka sebenarnya tidak mabuk, tetapi azab Allah amatlah berat, mengerikan. Dan ada di antara manusia Yang membantah perkara-perkara Yang berhubung Dengan Allah Dengan tidak berdasarkan sebarang pengetahuan, dan ia menurut tiap-tiap Syaitan Yang telah sebati Dengan kejahatan”.  (QS.22 Al Hajj, ayat 1-3)

Umar bin Khattab mengatakan “Mungkin engkau dalam kehidupan, satu kali akan timbul kemalasan.”. Malas boleh. Shalat lima waktu jangan ditinggalkan. Modal utama ini jangan sampai hilang. Guna mendidik kekuatan jiwa menghadap kepada Tuhan. Dengan shalat pakaian taqwa dapat diraih dan dengan itu kita akan ditempa menunggu panggilan menghadap Tuhan di ujung hidup dunia ini, untuk melalui hidup yang kekal.

 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ المُؤْمِنَاتِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ.

رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s