Muballigh Membangun Kehidupan Yang Diredhoi Allah dengan Dakwah Ilaa Allah


Peranan Muballigh dalam Membangun Kehidupan Maju Diredhoi Allah Azza Wa Jalla

Oleh : H. Mas’oed Abidin


Pendahuluan

Abad ini disebut orang sebagai abad global dan modern berkemajuan. Di era ini selalu terjadi perubahan cepat, transparan. Hubungan komunikasi, informasi, transportasi menjadikan jarak mendekat, sempit seakan tanpa batas.

Arus globalisasi itu pula dengan kuat menggeser pola hidup masyarakat. Tampak nyata ada perubahan sikap pada kehidupan sosial yang  berasaskan kebersa­maan (ta’awun) mulai bergeser menjadi individualis (nafsi nafsi). Gerakan lamban berubah serba cepat. Nilai-nilai dalam kehidupan acap kali dikalahkan oleh kepentingan konsumeristis (hubbud dunya). Peranan kepemimpinan formal masyarakat (suluah bendang di nagari) juga ikut berubah dan menjadi kurang diminati.

Aspek paling mendasar dari perjalanan globalisasi, termasuk di Sumatera Barat kini, menyangkut secara langsung kepentingan sosial masing‑masing daerah dalam upaya pencapaian pembangunan fisik yang kasat mata. Masing‑masing akan berjuang memelihara kepentingannya. Kecenderungan ini dapat saja melahirkan persaingan tajam. Manakala tidak diawasi, akan bergerak kepada “yang kuat akan bisa bertahan dan yang lemah akan mati sendiri”, mirip dengan kehidupan sosial masyarakat jahiliyah dalam ungkapan Ja’far bin Abi Thalib kepada Negus di abad ke‑7 pada alaf pertama: “Kunna nahnu jahiliyyah, nakkulul qawiyyu minna dha’ifun minna.” Maknanya “Kami masyarakat jahiliyyah, yang kuat dari kami akan menelan yang lemah di antara kami.”.

Masih banyak generasi muda di Masjid tergantung bagaimana kita teguh dalam membina merekaKehidupan sosial sedemikian hanya dapat diperbaiki dengan kekuatan Wahyu Allah, yakni mengaplikasi syari’at Islam dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, serta penerapan ajaran tauhid ibadah dan tauhid sosial (Tauhidic Wel­tanschaung). Tentu saja ini serta merta adalah peran dari muballigh di daerah ini.

Mesti ‘Arif Memandang Setiap Perubahan Yang Terjadi

Premis dasar yang selama ini berlaku, bahwa makin banyak pengetahuan (P) yang terdiri dari ilmu (ip) ditambah informasi dan teknologi (In.T), akan makin besar kemampuan pengendalian (K), kelihatannya mulai jadi kabur. Kenyataan yang tersua adalah, makin banyak informasi (di media, tv, dalam pemberitaan dan penayangan) telah membuat semakin kecil kemampuan untuk pengendalian di tengah ummat.

Pertanyaan dilematis, haruskah kita menjadi pak turut dari suatu Informasi yang kompulsif dan totaliter, dengan resiko bergayut kepada hal hal baru yang lebih subversif ??? Atau, haruskah semua itu diperangi secara jihadik dengan tetap melestarikan kelangkaan tradisonal dengan mengabaikan semua perkembangan informasi teknologi itu, sehinga beresiko menyerahkan kendali nasib kepada orang lain ??? Jawaban nyang tepat agaknya adalah ta’awunik yakni menghadapi secara kebersamaan terorganisir, dengan kendali mutu tauhidik selalu bersandar kepada ketentuan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.

Mengunjungi Jamaah yang jauhTidak dapat tidak, informasi memerlukan interpretasi. Penerjemahan sesuai keperluan dalam menata masyarakat penggunanya. Khususnya bagi kita di Sumatera Barat, dengan menata ulang (modifikasi setting) guna terjaga norma kehidupan masyarakat yang telah lama beradat (Minangkabau) dan beragama Islam. Di sini kerja keras paling utama, yang tidak boleh dilalaikan dan dianggap remeh, terutama bagi para muballigh. Kiranya dapat dipahami, bahwa tanpa kerja keras dengan sikap keistiqamahan (konsistensi), semua kemajuan mustahil terkendali dan tidak lagi menjanjikan rahmat, tetapi mungkin sebaliknya, mendatangkan petaka.

MENAPAK ABAD TAK BERSEKAT.

Kebebasan bisa menjadi ancaman bagi kemajuan, apabila kurang siap mengendalikan kemajuan itu. Kekuatan pengendalian itu tiada lain adalah agama dan budaya umat (umatisasi), “ ‘alaikum anfusakum, laa yadhurrukum man dhalla idzah-tadaitum” (QS.5:105), dan ingatlah pula “wa man yusyrik billahi fa qad dhalla dhalaalan ba’idan” (QS.4:116), dan juga “fa dzalikumullahu rabbukumul-haqqu, fa madza ba’dal-haqqi illadh-dhalaal ? .. fa anna tushrafuun” (QS.10, Yunus:32). Selain kekuatan aqidah Islam di daerah ini ada kekayaan budaya umat yang unggul  (ABS-SBK), bila mampu diimplementasikan ke dalam kehidupan bermasyarakat.

Prediksi abad kedepan, menjadi abad agama dan budaya, termasuk di Barat. Ternyata kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi itu telah menyisakan bermacam problema, di tengah tercerabutnya agama dari diri masyarakat (khususnya di Barat) telah banyak berpengaruh pada kehidupan peribadinya. Kehausan kepada pemahaman agama yang sufistik terlihat makin pesat.

Kegiatan Wirid Remaja Masjid Raya Al Munawwarah SitebaMaka, peranan dakwah para muballigh dalam membawa umat melalui informasi dan aktifiti, kepada keadaan yang lebih baik, untuk membangun masyarakat yang kokoh dengan qanaah, istiqamah, dan berkualitas dengan iman, hikmah, ‘ilmu, serta matang dengan visi, misi, amar makruf nahi munkar, professional, research-oriented dan berbasis ilmu pengetahuan (knowledge based), sehingga mampu menjadi khaira ummah, al a’launa  yang diperhitungkan karena pacak menghadapi kompleksitas abad tanpa sekat ini, adalah tugas mulia dan berat.

Khulasahnya ;  

Karena itu mesti dikembangkan dakwah yang sejuk, yakni dakwah bil ihsan.  Membangun masyarakat dengan prinsip tidak campur aduk (laa talbisul haq bil bathil) yang bertauhid dan menyatu antara pemahaman dunia untuk akhirat, menjadi tugas utama. Belajar kepada sejarah, siruu fil ardhi, masyarakat Muslim di Sumatera Barat ke depan tidak boleh menjadi masyarakat lupa sejarah. Untuk itu, perlu gerak (harakah) dakwah yang terjalin dengan net work (ta’awunik) yang rapi (bin-nidzam), untuk penyadaran kembali (re-awakening) generasi Islam tentang peran Islam membentuk tatanan kehidupan dunia yang baik. Masa depan amat di tentukan oleh umat yang memiliki kekuatan budaya yang dominan. Budaya masyarakat Sumatera Barat adalah budaya beragama Islam. Insya Allah.

Melangkah di era globalisasi, semestinya Dakwah menampilkan sikap mandiri yang merdeka tanpa tekanan dalam mengembangkan da’wah ilaa Allah. Muballigh mestinya mempunyai sikap optimisme yang tinggi dan intensif mengharap redha Allah. Untuk wilayah dakwah, khususnya di Sumatera Barat, semestinya lembaga-lembaga dakwah bersama pemerintah daerah, mampu memotivasi para juru dakwah (muballigh/muballighah)nya, dalam lintas sektoral maupun departemental, utamanya yang bertugas di daerah-daerah rawan, dimana ukuran kelayakan tengah mengalami perubahan, agar ukuran baik dan buruk, boleh dan tidak, acuan kepantasan (normatif, manusiawi, kemasyarakatan), harus tetap dipertahankan. Di antara ukuran yang kita miliki adalah alur dan patut. “Jiko mangaji dari alif, jiko babilang dari aso. Jiko naik dari janjang, jiko turun dari tanggo”.

Billahittaufiq wal hidayah. Wassalamu’alaikum Wa Rahmatullahi wa barakatuh.

Padang, 22 Rabi’ul Awwal 1433 H/15 Pebruari 2012 M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s