Sinerjitas Syara’ dan Adat dalam Praktek Muamalah di Minangkabau


Sinergisitas Syara’ dan Adat dalam Praktek Muamalah di Minangkabau

 

 Oleh : H. Mas’oed Abidin[1]

 

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه ، لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه، مخلصين له الدين ولو كره الكافرون. وأزكى صلوات الله وتسليماته على سيدنا وإمامنا، وأسوتنا وحبيبنا محمد صلى الله عليه وسلم واله ورضي الله عن أصحابه،  ومن سار على ربهم إلى يوم الدين.  أما بعد  ،،،،،

Segala puji diperuntukkan kepada Allah S.W.T.

Selawat dan salam bagi Baginda Rasulullah SAW. Kepada beliau telah diberikan wahyu,  yang  mengajar berbagai program ilmu, meningkatkan pengetahuan dan pengalaman dalam aspek-aspek tertentu mengenai Islam dan kehidupan

Mukaddimah

Di dalam berinteraksi sebagai awal dari praktek hubungan mu’amalah di ranah bundo, maka generasi Minangkabau memakaikan acuan perilaku dengan filosofi adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah serta memakaikan sikap istiqamah (konsistensi) di dalam menegakkan ajaran syari’at agama Islam.

Manusia telah ditetapkan menjadi penduduk bumi. Dia ditugaskan pula untuk membina segala sesuatu yang ada di seke­lilingnya. Menunjang suatu peradaban sesuai dengan harkat kemanusiaan. Manusia memerlukan alat untuk menyam­paikan maksudnya. Harus ada alat untuk saling berhubungan, bermuamalah satu sama lain. Tanpa adanya hubungan interaksi antara saatu dan lainnya, pembinaan peradaban kemanusiaan tidak akan terjadi. Jika hubungan mu’amalah (komunikasi) tidak ada, barangkali hakekat manusia dalam hidupnya, akan sangat lain bentuk dan perwujudannya dari sekarang. Bahasa merupakan alat penghubung paling pokok.

Bahasa adalah alat untuk menyampaikan perasaan dan pengertian, juga anjuran. Para ilmuwan menyebutkan, bahwasanya bahasa adalah “anak kisah”. Ibu kandung bahasa adalah percakapan. Melalui percakapan dapat dilihat tingkat budaya dan kearifan seseorang atau satu kaum. Syari’at Agama Islam amat menekankan cara berbahasa yang baik.

Berbahasa adalah kekuatan tamaddun dan tadhamun (budaya) dari syarak (Islam) menjadi rujukan pemikiran, pola tindakan masyarakat berbudaya yang terbimbing dengan sikap tauhid (aqidah kokoh), kesabaran (teguh sikap jiwa), konsistensi (istiqamah), keikhlasan (motivasi amal ikhtiar), tawakkal (penyerahan diri secara bulat) kepada kekuasaan Allah yang jadi sibghah (ciri pertanda jati diri yang utama, identitas), sebagai insan yang memiliki iman dan takwa secara nyata.

Cara berinteraksi (bermuamalah) dengan panduan adat dan syarak memiliki relevansi diperlukan setiap masa, dalam menata sisi-sisi kehidupan  kini dan masa depan. Suatu individu atau kelompok masyarakat yang kehilangan pegangan hidup (aqidah dan adat), walau secara lahiriyah kaya materi, namun miskin mental spiritual, akan terperosok kedalam tingkah laku yang menghancurkan nilai fithrah itu.  Fatwa adat menyebutkan,

“Alang tukang tabuang kayu, Alang cadiak binaso adat,  Alang alim rusak agamo, Alang sapaham kacau nagari.

Dek ribuik kuncang ilalang, Katayo panjalin lantai, Hiduik jan mangapalang, Kok tak kayo barani pakai.

Baburu ka padang data, Dapeklah ruso balang kaki, Baguru kapalang aja, Bak bungo kambang tak jadi”. 

Di dalam menerapkan hubungan muamalah tidak dilupakan rasa dan semangat persaudaraan (ruh al ukhuwwah) yang terjalin baik. Persaudaraan tidak dapat di raih dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak.[2]

Demikian pula bermuamalah dalam hubungan ekonomi, harus menghindari sikap loba dan tamak. Kedua sifat yang tidak baik ini dalam tatanan ekonomi akan mempertajam pertentangan dhu’afak dan aghniya’ berpunya (modalwan). Sikap bakhil meruntuhkan perasaan persaudaraan dan perpaduan. Setiap Muslim wajib mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya yang menjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian dan membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya.

 اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ  وَالَّذِينَ كَفَرُوا  أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ  يُخْرِجُونَهُمْ  مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

 Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada nur(hidayah-Nya). Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka ialah taghut ( sandaran kekuatan selain Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah Allah) kepada berbagai kegelapan. [3]

 

Menyatunya  Adat dan Syarak menjadi Acuan Perilaku

Generasi Minangkabau lahir dalam budaya luhur berasaskan tauhidik. Artinya generasi Minangkabau memiliki daya inovasi dan daya kreasi yang tinggi, karena didukung oleh tamaddun yang luhur. Cahaya akal mesti diletakkan di bawah naungan wahyu (Alquran Kitabullah) agar berpadu kepintaran dengan kebijaksanaan, dan bersinerji pengetahuan dengan hidayah. Dengan demikian rahmat dan barakah dapat diraih. Ihsan dan kasih sayang dapat dicapai.

Perilaku mensinerjikan adat dan syarak tampil sangat indah. Sabda Rasulullah SAW ;

الرَّاِحمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوْا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمُ اللهُ مَنْ فِي السَّمَاءِ        ( رواه أبو داود )

Orang-orang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang, maka sayangilah penduduk bumi agar yang di langit ikut pula menyayangimu.

Dengan ilmu berteraskan iman, generasi Minangkabau di nagari-nagari akan dapat merumus fikrah kebersamaan dalam merancang gerak, menyatukan visi dan misi. Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah di Minangkabau menjadi acuan perilaku beradat, melahirkan generasi yang dinamik dengan jeli akal fikir dan jernih budi pekerti.

Pucuak pauah sadang tajelo, Panjuluak bungo galundi, Nak jauh silang sangketo, Pahaluih baso juo  basi.

Amjalai tumbuah di munggu, Sugi-sugi di rumpun padi, Nak pandai sungguah baguru, Nak tinggi naiakkan budi.”

Nilai martabat seseorang terletak pada akhlaknya dan saling melindungi.

أَكْمَلُ المُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، المُوَطِؤُوْنَ أَكْنَافًا، الَّذِيْنَ يَأْلَفُوْنَ وَ يُؤْلَفُوْنَ.     ( رواه الطبراني و أبو نعيم )

Sebaik-baik mukmin seseorang adalah yang paling sempurna akhlaknya”. (HR. Thabarany dan Abu Nu’aim).

Generasi Minangkabau di dalam bermuamalah selalu mengedepankan kasih sayang.

” di ma bumi di pijak, di sinan langik di junjuang, di situ adaik bapakaikan”

Mensinerjikan adat dan syarak di dalam perilaku melahirkan generasi berkualitas.

Basilek di ujuang muluik, Malangkah di pangka karih. Bamain di ujuang padang. Tahan di keih kato putuih. Tahu di kilek dengan bayang, Tahu di gelek kato habih. Tahu di rantiang kamalantiang, Tahu di dahan nan ka mahimpok.”

Generasi Minangkabau di dalam bermuamalah (interaksi) mampu mengatasi kurenah perbedaan dan pertarungan menumpas kebatilan, dengan budaya  jama’i ;

«  kok gadang indak malendo, kok cadiek indak manjua,  tibo di kaba baik bahimbauan, tibo di kaba buruak bahambauan. »

Agama maupun adat  mengajarkan,

لَيْسَ مِنْ أُمَّتيِ مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيْرَنَا، وَ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا، وَ لَمْ يَعْرِفْ لِعَاِلمِنَا…         ( رواه أحمد )

Tidak tergolong umatku siapa yang tidak hormat ka nan tuo, dan tidak saying ka nan ketek, dan tidak arif kepada orang yang alim.

Zaman menjadi lone ranger sewajarnya sudah berakhir. Kepemimpinan adalah amanah dan tanggungjawab di dalam adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah adalah,

“ Manyuruah babuek baik, malarang babuek jahek.  Mahirik mambantang, manunjuak ma-ajari. Managua manyapo. Tadorong mahelo,  talompek manyentak, Gawa ma-asak ka nan bana. Tak ado karuah nan tak janieh. Tak ado karuik nan tak salasai.”  

Betapa agung Allah, telah menetapkan syari’at bermuamalah dengan lemah lembut.

مَا كَانَ الرِّفْقُ فيِ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ نُزِعَ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ   ( رواه الضياء عن أنس )

Lemah lembut dalam sesuatu (urusan) menyebabkan indahnya sesuatu dan jika lemah lembut itu telah dicabut dari sesuatu, niscaya yang akan tersisa adalah keburukan. (Diriwayatkan oleh Dhia dari Anas).

Sesungguhnya muamalah di Minangkabau berpedoman kepada acuan adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah telah menampilkan kualitas dengan kemahiran tanzim Islami. Teguh ubudiyyah dan zikrullah. Mahir melatih dan membimbing kesinambungan proses interaksi (muamalah) di tengah anak nagari, memerlukan kreativitas didukung keikhlasan mencari redha Allah. Di fatwa adat disebutkan;

Iman nan tak buliah ratak, kamudi nan tak buliah patah, padoman indak buliah tagelek, haluan nan tak buliah barubah”.

Kehidupan akan indah, manakala Muamalah terjalin rapi

Alangkah indahnya masyarakat hidup dalam rahmat kekeluargaan kekerabatan dengan benteng aqidah yang kuat. Berusaha (bermuamalah) dengan baik di dunia fana. Kemudian, membawa amal shaleh ke alam baqa. 

Kehidupan masyarakatnya digambarkan dengan labuah nan pasa terbentang panjang, tepian tempat mandi terberai (terserak dan terdapat) di mana-mana. Gelanggang yang muda-muda tempat sang juara berprestasi dengan keahlian dan ketangkasan secara sportif, berdasarkan adat main “kalah menang” (rules of game).

Hukum Syarak  menghendaki keseimbangan antara  perkembangan hidup rohani dan perkembangan jasmani. Sesungguhnya rohani-mu berhak atasmu. Jasmanimu pun berhak atasmu. Kehidupan di rumah tangga wajib dibina, dan masyarakat keliling mesti ditenggang. Keduanya wajib di jaga, sebagai aplikasi dari muamalah yang baik..

Mancari kato mufakaik, ma-nukuak mano nan kurang, mam-bilai mano nan senteng, ma-uleh sado nan singkek,  Man-jinaki mano nan lia, ma-rapekkan mano nan ranggang,  ma-nyalasai mano nan kusuik, ma-nyisik mano nan kurang,  ma-lantai mano nan lapuak,  mam-baharui mano nan usang.

Inilah keseimbangan hidup dalam masyarakat adat kita yang telah mensinerjikan  antara adat dan syarak di dalam bermuamalah di Minangkabau.

Alah bakarih samporono, Bingkisan rajo Majopahik, Tuah basabab bakarano, Pandai batenggang di nan rumik.

Dengan kepintaran bertenggang atau berhemat dalam setiap keadaan, masyarakat akan hidup aman dan makmur.

Hubungan bermasyarakat dengan anugerah alam dan minat seni yang indah.

“Rumah gadang basandi batu, atok ijuak dindiang ba ukie, cando bintangnyo bakilatan, tunggak gaharu lantai candano, taralinyo gadiang balariak, bubungan burak katabang, paran gambaran ula ngiang, bagaluik rupo ukie Cino, batatah jo aie ameh, salo manyalo aie perak, tuturan kuro bajuntai, anjuang batingkek ba alun-alun, paranginan puti di sinan , Lumbuang baririk di halaman. Rangkiang tujuah sa jaja, sabuah si Bayau-bayau, panenggang anak dagang lalu, sabuah si Tinjau Lauik, panengggang anak korong kampuang, birawari lumbuang nan banyak, makanan anak kamanakan”.

Artinya, ada perpaduan ilmu rancang, seni ukir, budaya, material, mutu, keyakinan agama  menjadi dasar rancang bangun masyarakat dengan dasar cita-cita keperibadian, idea ekonomi yang tidak mementingkan nafsi-nafsi (individualis), memperhatikan anak dagang lalu, dan anak kemenakan di korong kampung. Modal besar membangun nagari dan wilayah di masa depan. Bimbingan syarak mengatakan,

مَنْ لاَ يَرْحَمُ النَّاسَ، لاَ يَرْحَمُهُ اللهُ.    ( متفق عليه )

Yang tidak bisa menyangi sesama manusia tidak akan disayangi oleh Allah                             

 “nan elok di pakai, nan buruak di buang,  usang-usang di pabaharui, lapuak-lapuak di kajangi”,  maknanya selektif dan moderat.       

Syarak Mangato Adat Memakai

Kitabullah yakni Alquran “mengeluarkan manusia dari sisi gelap kealam terang cahaya (nur)”[4] dengan aqidah tauhid. Di dalam masyarakat Minangkabau hidup menjadi beradab (madani) dengan spirit kebersamaan (sa-ciok bak ayam sa-danciang bak basi), sesuai pepatah “Anggang jo kekek cari makan, Tabang ka pantai kaduo nyo, Panjang jo singkek pa uleh kan, mako nyo sampai nan di cito”, diperkuat dengan  keterpaduan (barek sa-pikua ringan sa-jinjiang) atau “Adat hiduik tolong manolong, Adat mati janguak man janguak, Adat isi bari mam-bari, Adat tidak salang ma-nyalang”, nyata pada tangga musyawarah (bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mupakat), dalam kerangka “Senteng ba-bilai, Singkek ba-uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo” dalam menerjemahkan iman kepada Allah SWT dan menjadi pengikat spirit sunnatullah dalam setiap gerak.

Dalam Fatwa adat disebut tanggung jawab masyarakat adat menjaga ketaatan hukum dan memelihara keteraturan sebagai ciri utama masyarakat bersyukur, yang berbuat menurut aturan dan undang-undang.

“Nan babarih babalabeh, nan ba-ukua nan ba jangko, Mamahek manuju barih, Tantang bana lubang katabuak. Manabang manuju pangka, Malantiang manuju tangkai, Tantang bana buah ka rareh. Kok manggayuang iyo bana putuih,  Kok ma-umban iyo bana rareh.”

Artinya, setiap pekerjaan mesti sesuai dengan aturan, sesuai garis sunnatullah. Dengan mendalami ilmu, lahirlah rasa khasyyah (takut) dan takwa kepada Allah dengan melahirkan watak menjauhi rasa takabbur, kufur dan bangga diri dengan merendahkan orang lain. Seorang Muslim merasakan nilai-nilai aqidah dan penghayatan di dalam kehidupan menjadi satu yang wajib. Al-Sunnah telah memberikan perhatian mendalam kepada masalah nilai aqidah, seperti sabda Nabi SAW:

ذاق طعام الا يمان من رضي بالله ربا وبا لا سلا م دينا وبمحمد رسولا.

Yang merasakan lazatnya iman adalah orang yang redha terhadap Allah sebagai Tuhannya, dan redha terhadap Islam sebagai agamanya dan redha terhadap Muhammad sebagai Rasul.[5]

Menanamkan mahabbah (kasih sayang) sesama, sesuai sabda Rasulullah SAW :

ثلاث من كن فيه وجد طعم الايمان  : من كان الله ورسوله احب اليه مما سواهما,   ومن احب عبدا لا يحبه الا الله,  ومن يكره ان يعود فى الكفر بعد ان انقذه الله منه كما يكره ان يلقى فى النار.

Ada tiga perkara, barangsiapa terdapat pada dirinya, maka dia akan merasakan lazatnya keimanan : Orang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada selain keduanya, orang yang mencintai seorang hamba hanya karena Allah, dan orang yang benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana dia benci untuk dilempar ke dalam neraka.[6]

Menuntut ilmu adalah kewajiban asasi setiap Muslim, karena pengetahuan manusia sedikit sekali …,

  يَسْئَلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَ مَا أُوْتِيْتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيْلاً. 

dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh . Katakanlah: “Ruh  itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (QS.17, al Isra’ : 85).

 

Ilmu adalah bekal membuat sesuatu lebih baik di masa datang secara madiyah (material) maupun ruhaniyah (spiritual) Ilmu menjadikan keteguhan pendirian menjauhi segala bentuk kemungkaran. Ilmu akan mendukung kehidupan berakhlak mulia, sopan pergaulan dan memakaikan rasa malu.

Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek. [7]

Apabila malu sudah hilang, tidak ada  yang melarang untuk berbuat seenak hatinya.  

Anak urang Koto Hilalang, Handak lalu ka Pakan Baso,  malu jo sopan kalau lah hilang,  habihlah raso jo pareso.

Khatimah

Kalau disimpulkan, alam diciptakan oleh Yang Maha Kuasa untuk dijaga manusia sebagai khalifah, dengan cara pintar bermuamalah, mempertinggi mutu kehidupannya. Manusia diharuskan berusaha memeras otak untuk mengambil sebanyak-banyak faedah dari alam sekelilingnya itu, menikmatinya, sambil mensyukurinya, beribadah kepada Ilahi.

Manusia harus menjaga diri dari perbuatan yang melanggar batas-batas kepatutan dan kepantasan, agar jangan terbawa hanyut oleh materi dan hawa nafsu yang merusak, sebagai persembahan manusia kepada Maha Pencipta. Allah SWT menghendaki manusia hidup seimbang antara kemajuan di bidang rohani dan jasmani, menjadi sumber dorongan (motivasi) bagi kegiatan di bidang ekonomi, dan hubungan sosial kemasyarakatan.

Sebagai masyarakat beradat dengan pegangan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kaedah adat itu memberikan pelajaran agar manausia selalu bekerja sempurna dan bermuamalah dengan dengan baik.

Ka lauik riak mahampeh, Ka karang rancam ma-aruih, Ka pantai ombak mamacah,   Jiko mangauik kameh-kameh, Jiko mencancang, putuih – putuih, Lah salasai mangko-nyo sudah.

Artinya bekerja sepenuh hati, dengan mengerahkan semua potensi yang ada.

Anggang jo kekek cari makan,  Tabang ka pantai kaduo nyo. Panjang jo singkek pa uleh kan,  mako nyo sampai nan di cito,[8]

Panggiriak pisau si rauik,   Patunggkek batang lintabung,  Salodang ambiak ka nyiru.     Setitiak jadikan lauik,  Sakapa (sekepal) jadikan gunuang,  Alam takambang jadi guru.[9]

Mengambil pelajaran dari perjalanan hidup yang tengah diharungi, maka hubungan bermuamalah, tijarah, dan bai’ah, tetap harus terjaga dengan akhlak yang mulia. Labih jauh bahwa apa yang diperdapat di dunia sebagai anugerah Allah SWT, berguna untuk meraih kebahagian di akhirat jua adanya.

وَابْتَغِ فِيمَا ءَاتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ ولا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ولا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي االأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.[10]

 

Kaedah hidup di Ranah Minang mengadatkan,

”Handak kayo badikik-dikik, Handak tuah batabua urai,  Handak mulia tapek-i janji, Handak luruih rantangkan  tali,  Handak buliah kuat mancari, Handak namo tinggakan jaso,  Handak pandai rajin balaja.”

Untuk mencapai semuanya itu diperlukan kematangan serta kecermatan diri dan keteguhan hati dalam melaksanakan setiap langkah perbuatan.

Tasindorong jajak manurun, tatukiak jajak mandaki,  adaik jo syarak kok tasusun,  bumi sanang padi manjadi.[11]

Artinya, apabila adat dan syarak tersusun dengan baik, maka masyarakat akan tenteram (bumi senang, padi menjadi). Kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi aman dan damai Perekonomian masyarakat akan berkembang. Pandai-pandailah berhitung.

حَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا، وَ زِنُوْا أَعْمَالَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوْزَنَ عَلَيْكُم   ْ

Hitunglah diri sebelum kamu  dihitung,dan timbanglah perbuatan sebelum kelak amalan ditimbang artinya  Ingek sabalun kanai, Kulimek balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai, Agak-agak nan ka-tingga.

Disini terpatri muruah kita. Selalu berpegang kepada kebenaran. Dalam bermuamalah dahulukan kepentingan negeri (negara) di atas  kepentingan diri, mengamalkan amar makruf nahy munkar. Dengan demikian kita menjadi umat pilihan.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَ تَنْهَوْنَ عَنِ المُنْكَرِ   وَ تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ.

Kamu adalah umat pilihan, yang tampil di tengah manusia, kamu mengajak kepada yang makruf, melarang dari yang munkar, dan kamu beriman kepada Allah.

Wa billahit taufiq wal hidayah.

Padang,  02 Maret 2012


[1]     Disampaikan pada Acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ,Tahun 2012 M/1433 H di Masjid Raya Sumatera Barat, Jalan Khatib Sulaiman, Padang, Jumat 02 Maret 2012M/08 Rabi’ul akhir 1433 H

[2]     Pepatah Arab menyebutkan, اخاك اخاك ان من لا اخا له-  كساع الى الهيجا بغير سلاح

[3]     Al-Baqarah, 257

[4]     Lihat QS.14, Ibrahim : 1.

[5]     Hadith riwayat Muslim dan Tarmizi.

[6]     Hadith riwayat Bukhari, Muslim, Tarmizi dan nasa^i.

[7]     Rarak (berjatuhan) kalikih (buah pepaya) karena mindalu (parasit). Tumbuh serumpun dengan sikasek. Kalau hilang rasa dan malu. Bagaikan kayu longgar pengikat. (Artinya, seperti seikat kayu  berserakan kesana kemari). 

[8]     Enggang dan kekek cari makan. Terbang ke pantai keduanya. Panjang dan singkat dipaulehkan (dipertautkan). Makanya sampai yang dicita-citakan.

[9]     Penggirik (pelobang) pisau siraut (yang tajam dan runcing). Bertongkat batang lintabung. Setetes jadikan laut. Sekepal jadikan gunung. Alam terkembang jadikan guru. Belajar kealam guru pertama manusia.

[10]    QS.28, Al Qashash:77.

[11]    Terdorong jejak menurun, tertukik jejak mendaki. Adat dan Syarak jika tersusun, bumi senang padi menjadi. Adagium adat basandi syarak di Minangkabau, adalah kaedah hidup bermasyarakat yang dipakai sehari-hari. Apabila adat dan syarak tidak dipakai lagi, bencana yang akan datang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s