Perlu penataan “Tata Ruang” dalam Pembinaan Dakwah di Nagari Nagari di Sumatera Barat dalam tatanan Adat Minangkabau


 

 

وَ الَّذِيْنَ جَاهَدُوا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا و إنَّ اللهَ لَمَعَ المُحْسِنِيْنَ

]العنكبوت: 69[

Siapapun yang berjalan menuruti jalan Kami, di tengah jalan – pasti — akan Kami tunjukkan banyak jalan-jalan – keluar dari masalah-masalah –, dan sebenarnya Allah beserta orang Muhsinin – yakni yang berbiuat baik –“

(QS. Al-‘Ankabut: 69)

 

Nagari di Minangkabau berada di dalam konsep tata ruang yang jelas.

Basasok bajarami,

Bapandam bapakuburan,

Balabuah batapian,

Barumah batanggo,

Bakorong bakampuang,

Basawah baladang,

Babalai bamusajik. [1]

Ba-balai (balairuang atau balai-balai adat) tempat musyawarah dan menetapkan hukum dan aturan,

Ustano Basa Ampek  Balai Pagaruyung

(Foto Doc.HMA-2002.04.29)

Balairuang tampek manghukum,

ba-aie janieh basayak landai,

aie janiah ikan-nyo jinak,

hukum adie katonyo bana,

dandam agiae kasumaik putuih,

hukum jatuah sangketo sudah. [2]

Artinya, balairung tempat menghukum, berkeadilan dengan air jernih dan sayak landai (prinsip law enforcment) dengan hukum yang adil dan tuduhan yang benar (berkata benar). Hukuman yang ditimpakan, sama sekali tidak diwarnai oleh  dendam kesumat. Tatkala hukum telah dijatuhkan sengketapun selesai. Ini di antara peran balairung.

Umumnya, sebelum hukum diputuskan di balerong, terlebih dahulu dimusyawarahkan di surau atau masjid. Diupayakan agar didapat penyelesaian yang langgeng (landai, datar). Namun, kalau di surau juga belum dapat diselesaikan barulah persengketaan tersebut dibawa kebalai-balai. Andaikata di balai-balai adat masih tidak dapat penyelesaian,  maka perkara dimaksud akan diserahkan kepada kekuasaan Pengadilan.

Nagari mempunyai Masjid (Ba-musajik) dan surau (ba-surau) tempat beribadah,

Musajik tampek ba ibadah,

tampek balapa ba ma’ana,

tampek balaja Alquran 30 juz,

tampek mangaji sah jo batal[3],

Artinya, Masjid dan Surau menjadi pusat pembinaan umat untuk menjalin hubungan bermasyarakat yang baik (hablum-minan-naas) dan terjaminya pemeliharaan ibadah dengan Khalik (hablum minallah).

 

Ba-surau Ba-musajik di Nagari dalam Ranah Minangkabau

Adanya balairuang dan musajik (surau) ini menjadi lambang utama terlaksananya hukum[4]

Surau dan Balerong (=balai ruang yang tidak memiliki kamar, sama halnya dengan surau dan masjid), di dalam “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah., syarak mangato adat nan kawi syarak nan lazim”, adalah sarana penting.

Karena, kedua lembaga ini – balai adat dan surau – keberadaannya tidak dapat dipisah dan dibeda-bedakan.

Surau  di  tengah  Nagari  di  Minangkabau

Pariangan manjadi tampuak tangkai,

Pagarruyuang pusek Tanah Data,

Tigo luhak rang mangatokan.

Adat jo syarak jiko bacarai,

bakeh bagantuang nan lah sakah,

tampek bapijak nan lah taban. [5]

Apabila kedua sarana ini telah berperan sempurna, maka akan didapati di kelilingnya masyarakat yang hidup dengan memiliki akhlaq perangai yang terpuji dan mulia (akhlaqul-karimah) sesuai bimbingan syarak.

]أكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إيْمَانًا أحْسَنُهُمْ خُلُقًا، اَلْمُوَطِّؤُونَ أكْنَافًا، الَّذِيْنَ يَأْلَفُوْنَ و يُؤْلَفُوْنَ[ (رواه الطبراني و أبو نعيم)

Iman orang-orang Mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya, lembut perangainya, bersikap ramah dan disukai pergaulannya. (HR.Thabrani)[6]

Syarak mangato adat memakaikan.

Tasindorong jajak manurun,

tatukiak jajak mandaki,

adaik jo syarak kok tasusun,

bumi sanang padi manjadi.[7]

 

Artinya, apabila adat dan syarak tersusun dengan baik, maka masyarakat akan tenteram (bumi sanang). Kehidupan di ranah ini aman damai dan perekonomian masyarakat nagari akan berkembang.

Bangunan Masjid  di  Tengah Kota  masa kini

Konsep tata-ruang ini adalah salah satu kekayaan budaya yang sangat berharga di Nagari dan bukti idealisme nilai budaya di Minangkabau, termasuk di dalam mengelola kekayaan alam dan pemanfaatan tanah ulayatnya.

Nan lorong tanami tabu,

Nan tunggang tanami bambu,

Nan gurun buek kaparak,

Nan bancah jadikan sawah,

Nan munggu pandam pakuburan,

Nan gauang katabek ikan,

Nan padang kubangan kabau,

Nan rawang ranangan itiak.[8]

Artinya, pemanfaatan alam (lahan) yang sangat terbatas di ranah ini, akan menjadi lebih bermanfaat apabila mampu di tata dengan baik. Menempatkan sesuatu menurut keadaan alam, kondidi dan musim, akan mendatangkan hasil yang lebih baik untuk kemakmuran di nagari.

 

Lazimnya  masyarakat  di nagari-nagari  di Ranah Bundo adalah masyarakat agraris, maka penggambaran  kemamuran itu adalah (padi manjadi = pertanian berhasil).

Tata ruang di bidang pertanian, yang lapang (lorong) untuk tanaman tebu, yang tunggang seperti tebing dapat ditanami bambu dengan beragam kegunaan dapat berfungsi penahan tanah untuk tidak longsor. Tanah gurun dan datar dapat dijadikan ladang palawija (parak) atau kebun tanaman tua. Tanah basah mempunyai tali bandar dapat dijadikan sawah. Pemilihan lokasi pandam pekuburan yang munggu agak ketinggian dan tebat ikan yang gaung agak dalam.

Bergembala kerbau di padang rumput, dan tanah rawa (rawang) masih dapat dimanfaatkan untuk beternak itik.

Mamangan ini mengandung pelajaran besar. Tidak semata untuk usaha mendatangkan hasil, tetapi bagaimana cara paling tepat memanfaatkan lahan tersedia. Arif memahami yang dikerjakan sesuai kajian tepat atau meletakkan sesuatu pada tempatnya. Satu kebijakan maju, menurut alur dan patut. Tata ruang yang jelas memberi posisi peran pengatur, pemelihara dan pendukung sistim banagari.

Peran orang ampek jinih yaitu ninik mamak[9], alim ulama[10], cerdik pandai.[11] Diperkuat oleh urang mudo.[12]

Peran bundo kanduang[13] di Minangkabau amat penting. Semua fungsionaris anak nagari ini mesti berjalan menurut tata aturan pada posisi masing-masing.

 

Sering bersua dengan masyarakat di nagari, untuk saling bertukar informasi.

Dengan demikian, Nagari di Minangkabau tidak hanya sebatas pengertian ulayat hukum adat.  Lebih mengedepan dan paling utama adalah wilayah kesepakatan antar berbagai komponen masyarakat di dalam Nagari .

Spirit atau jiwanya adalah ;

  1. 1. kebersamaan (sa-ciok bak ayam sa-danciang bak basi), ditemukan dalam pepatah.

Anggang jo kekek cari makan,

Tabang ka pantai kaduo nyo,

Panjang jo singkek pa uleh kan,

mako nyo sampai nan di cito.[14]

Artinya, panjang dan singkat apabila mampu menyambung, semua yang dicitakan tidak akan sulit mengujudkannya.

 

  1. 2. keterpaduan (barek sa-pikua ringan sa-jinjiang).

Adat hiduik tolong manolong,

Adat mati janguak man janguak,

Adat isi bari mam-bari,

Adat tidak salang ma-nyalang.[15]

 

Basalang tenggang, artinya saling meringankan dengan kesediaan memberikan pinjaman atau dukungan terhadap kehidupan. Kerja baik dipersamakan dengan saling memberi tahu teman, sanak saudara dan jiran keliling (husnu al-jiwaar).

Karajo baiak ba-imbau-an,

Karajo buruak bahambau-an.[16]

 

Apabila musibah yang tidak disenangi menjelang, maka tetangga berhampiran tempat tinggal, serta merta  menjenguk tanpa harus di undang lebih dahulu.


  1. musyawarah (bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mupakat = bulat air karena pembuluh, bulat kata karena mufakat).

Senteng ba-bilai,

Singkek ba-uleh,

Ba-tuka ba-anjak,

Barubah ba-sapo.

Senteng berbilai. Kekurangan dibantu bersama. Singkat di ulas. Bertukar beranjak. Kesalahan akan di ubah bersama. Artinya ada konfigurasi kolektifitas.

 

4. keimanan kepada Allah SWT menjadi pengikat di jiwai sunnatullah, mengenal alam keliling.

Panggiriak pisau sirauik,

Patungkek batang lintabuang,

Satitiak jadikan lauik,

Sakapa jadikan gunuang,

Alam takambang jadikan guru.[17]

Alam di tengah-tengah mana manusia berada ini, telah diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan terkandung padanya faedah-faedah kekuatan.

 

Banyak khasiat diperlukan untuk memperkembang dan mempertinggi mutu hidup jasmani manusia. Ada keharusan membanting tulang dan memeras otak. Mengambil sebanyak-banyak faedah dari alam sekeliling. Menikmati sambil mensyukuri dengan beribadah kepada Ilahi. Suatu bentuk persembahan manusia kepada Maha Pencipta. Menghendaki keseimbangan antara kemajuan di bidang rohani dan jasmani.

Jiko mangaji dari alif,

Jiko babilang dari aso,

Jiko naiak dari janjang,

Jiko turun dari tanggo.

Artinya, jika mengaji mulai dari alif (awal). Taat asas. Mau membilang dari satu. Mau naik dari jenjang. Dan jika mau turun melalui tangga. Maknanya adalah perlu teguh (konsisten) di dalam tindakan dan harus taat hukum.

 

  1. 5. kecintaan ke Nagari adalah perekat yang sudah dibentuk oleh perjalanan waktu dan pengalaman sejarah.[18]

Menjaga diri agar tidak melewati batas-batas yang patut dan pantas. Jangan terbawa hanyut materi dan hawa nafsu yang merusak. Sikap hidup (attitude towards life) sedemikian, menjadi sumber pendorong kegiatan anak nagari di bidang ekonomi. Di dalam meraih tujuan untuk memenuhi keperluan jasmani (material needs).

Sebab, kalau sekedar soal mencari kaya, rasanya orang Minangkabau tak usah payah-payah benar mengajarnya. Mereka cukup mempunyai inteligensi dan daya gerak. Kalau sekedar memperpesat kegiatan produksi yang ekffektif di Minangkabau, dalam arti ekonomis semata, tidak usaha payah-payah benar. Bicarakan dengan beberapa orang yang mempunyai modal. Terangkan dengan jelas, umpamanya bahwa pertanian dan peternakan menghasilkan.

Jelaskan sejelas-jelasnya bahwa barang-barang keperluan sandang dan pangan mempunyai harapan baik bila benar-benar di jadikan obyek usaha.

Akan lebih cepat ditangkap pikiran apabila di iringi dengan penyempurnaan cara pengolahannya. Paling penting di rumuskan lebih dahulu dengan sungguh-sungguh adalah dari mana dan bagaimana setiap langkah akan di ayunkan. Artinya, harus dibawa “baiyo batido”, maknanya musyawarah. Maka, surau dapat memberikan sumbangan nyata di dalam pembentukan watak anak nagari.

 

 

Hasilnya tergantung kepada dalam atau dangkalnya sikap hidup tersebut berurat dalam jiwa masyarakat Nagari dan kepada tingkat kecerdasan yang telah dicapai.

 

Nagari di Minangkabau tidak hanya sebatas pengertian ulayat hukum adat namun lebih mengedepan paling utama wilayah kesepakatan antar berbagai komponen masyarakat di dalam nagari.

  1. Khittah dalam menghadapi pembangunan di nagari adalah upaya terpadu. Kesepakatan bersama-sama mensukseskan program “kembali ke pemerintahan Nagari“.
  2. Kesepakatan membangun nagari mesti bertitik tolak dari pembinaan manusia, dalam arti mental dan fisik.
  • Membina daya pikir dan daya ciptanya,
  • Membersihkan aqidah,
  • Membangun hati nuraninya,
  • Membina kecakapan dan dinamikanya.

 

 

Di Surau dapat dilakukan Seminar untuk kemajuan Nagari

Membangun nagari bermakna membuat keseimbangan pertumbuhan rohani dan jasmani di antara anak nagari. Seimbang kesadaran akan hak dan kewajiban. Seimbang ikhtiar dan do’a nya.

]لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثِيْرَةِ الْعَرضِ، إنَّمَا الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ[ (متفق عليه)

Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan itu adalah kaya jiwa. (HR.Muttafaq ‘alaihi)[19]

 

  1. Harus ada kesiapan menghadapi bermacam-macam persoalan yang tumbuh dan kemampuan mengatasinya dengan cara bersama-sama.

Apabila kita berhadapan dengan “pembinaan kesejahteraan” dalam arti materiel maka tidak terlepas dari pada satu undang-undang baja ekonomi bahwa kita harus meningkatkan produksi di bidang apapun namanya entah di bidang sandang ataupun pangan.

Satu hal perlu di tanamkan, bahwa sesuai bimbingan syarak berproduksi tidak pernah terbuang percuma. Minimal untuk keperluan sendiri, keperluan orang di nagari, dan menanamkan pahala untuk esok.

]مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا، إِلاَّ كاَنَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ، وَلاَ يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ إلَى يَوْمِ القِيَامَةِ[ (رواه مسلم)

Seorang Muslim yang menanam suatu tanamaan, maka jika hasil dari tanamannya itu dimakan oleh manusia, maka akan menjadi sedekah baginya; jika hasilnya dicuri orang, juga akan menjadi sedekah baginya, dan jika dicabut oleh orang lain, maka itu juga akan menjadi sedekah baginya hingga hari kiamat. (HR.Muslim)

Kesudahannya, “perkembangan umur manusia” jua yang dapat mengarahkan perkembangan lahiriyah di bidang apapun.

 

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan satu kaum, kecuali apabila mereka merobah keadaan apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia (Allah). (QS.13, Ar Ra’du : 11)

4.  Produksi tidak dapat tidak menghendaki modal.

Modal dan teknologi perlu sebagai alat pembantu dan pendorong mempercepat prosesnya. Modal sebagai unsur produksi. Persediaan alat penghasil yang dihasilkan misalnya sarana, gedung-gedung, pabrik-pabrik, mesin-mesin, alat perkakas, dan persediaan barang, semua itu diperlukan untuk proses produksi.[20]

Pembentukan modal dapat dilakukan, apabila dari hasil produksi tidak semuanya dihabiskan. Tetapi sebagian di simpan. Lalu digunakan untuk produksi selanjutnya. Apabila masyarakat dapat membatasi “konsumsi sekarang”, maka akan diperoleh hasil yang lebih banyak pada masa datang.

Kita akan menjumpai lingkaran tak berujung pangkal.     Apabila hasil produksi dapat disimpan dalam jumlah besar, maka pembentukan modal akan bertambah besar.   Jika taraf penghidupan rendah, tidak mungkin dapat membukakan peluang. Kemungkinan di dalam masyarakat nagari untuk menyimpan sangat kecil.  Bahkan mungkin tidak dapat memupuk modal. Taraf hidup akhirnya merosot. Ekonomi tak mungkin berkembang dengan cepat. Peran budaya dan kebiasaan dalam masyarakat menentukan gerak ekonomi mereka.

Secara ekonomis, di samping kesanggupan dan kesediaan bekerja keras, rajin dan cermat, ada dua hal yang tidak dapat tidak harus di lakukan oleh suatu masyarakat nagari yang ingin memperkembang ekonominya, ialah :

a.     memulai dengan kesanggupan dan kesediaan  hidup berhemat untuk dapat memupuk modal.

b.     menghindarkan segala macam pemborosan, dan memberantas segala bentuk pemborosan itu.

Persoalannya ialah bagaimana kita membawa umat dan masyarakat nagari kepada kemampuan. Kepada kebiasaan “menyimpan” sebagian hasilnya.

Untuk “pembentukan modal” milik anak nagari sendiri. Berbagai upaya mesti dilakukan agar mereka dapat menghindar dari pemborosan (waste).  Maka, anak Nagari mesti didorong bekerja sepenuh hati. Tidak semata hanya mementingkan keperluan diri sendiri.

]مَنْ غَرَسًا، لَمْ يَأْكُلْ مِنْهُ آدَمِيٌّ ولاَ خَلْقٌ مِنْ خَلْقِ اللهِ، إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ[

Barangsiapa yang menanam suatu tanaman, jika kemudian tanaman  (buah tanaman) itu dimanfaat kan oleh anak Adam (manusia banyak) atau oleh suatu makhluk Allah yang lainnya, maka itu menjadi sedekah baginya. [21]

Satu dan lainnya, mengingat keperluan penduduk terus berkembang. Tuntutan penghematan devisa dengan cepat memperhitungkan rendemen dengan kalkulasi yang tepat pula. Ini kalau ditilik dari sudut efisiensi dan rendemen ekonomis semata-mata.

5.    Andai kata masyarakat kita di nagari-nagari di ranah Minangkabau tidak dapat mempergunakan kepandaian-kepandaian yang tersimpan di dalam jiwa anak nagari, maka tidak dapat tidak, nasib anak nagari kita tak ubahnya dari nasib induk ayam menetaskan telor itik.

Sebab itu, pekerjaan kita yang berat adalah di dalam menghidupkan minat.

Upaya kembali ke nagari dengan memperkuat program kembali ke surau mempunyai aspek lain. Menafaskan jiwa lain, yaitu wajib berusaha di urat masyarakat.

6.    Menumbuhkan kekuatan terpendam di kalangan anak nagari yang lemah selama ini, menjadi program utama. Dapat  disebut “pemerkasaan umat” di nagari itu.

]هَلْ تَنْصُرُوْنَ إلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ[ (رواه البخاري)

Tidaklah kalian dimenangkan dan mendapatkan rezeki kecuali dengan bantuan orang-orang lemah kamu (HR. Imam Bukhari, dan Nawawi dalam ar Riyadh)

 

Dok.HMA

Kegiatan  menyantuni para dhu’afak dan menyalurkan dengan

baik kedaerah  sulit perlu digerakkan bersama dan terorganisir

Kita ingin berhubungan dengan para dhu’afa. Dalam bentuk yang lain dari pada hanya sekedar meminta dukungan dan bantuan ketika mereka diperlukan. Tidak pula sekedar untuk tempat “meminta nasi bungkus“.

Maka pekerjaan memperkasakan umat di nagari-nagari mestilah di dukung oleh cita-cita hendak menjelmakan tata-cara hidup kemasyarakatan berdasarkan :

a.     hidup dan memberi hidup (ta’awun), bukan falsafah berebut hidup;

b.     tanggung jawab tiap-tiap anggota masyarakat atas kesejahteraan lahir batin dari masyarakat sebagai keseluruhan dan sebaliknya (takaful dan tadhamun);

c.     keragaman dan ketertiban yang bersumber kepada disiplin jiwa dari alam (‘izzat an-nafs), bukan lantaran pemaksaan dari luar;

d.    ukhuwwah yang ikhlas, bersendikan Iman dan Taqwa ;

e.     keseimbangan (tawazun) antara kecerdasan otak dan kecakapan tangan, antara ketajaman akal dan ketinggian akhlak, antara amal dan ibadah, antara ikhtiar dan do’a;

Ini wijhah (sasaran) yang hendak dituju. Ini shibgah (identitas) yang hendak dipancangkan. Tidak seorangpun yang berpikiran sehat di negeri ini keberatan terhadap penjelmaan masyarakat yang semacam itu. Suatu bentuk dan susunan hidup berjama’ah yang diredhai Allah. Satu yang dituntut “syariat” Islam. Sesuai dengan Adat basandi syarak dan Syarak nan basandi Kitabullah.

 

Bantuan untuk anak-anak dari keluarga dhu’afak di Pesisir Selatan

7.    Kita sekarang menapak kembali ke nagari. Bermakna kita sedang merambahkan jalan. Untuk menjelmakan hidup berjama’ah yang duduk sama rendah tagak samo tinggi, sa ciok bak ayam sa dantiang bak basi. Selama ini, belum kunjung terjelma di negeri kita ini, kecuali dalam khotbah alim-ulama, pepatah petitih ahli adat, dan pidato para cerdik cendekia.

Kita rintis dengan alat-alat sederhana. Tetapi dengan api cita-cita yang berkobar-kobar dalam dada kita masing-masing. Ini nawaitu kita dari semula.

]إنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، و إِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ ورَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إلَى اللهِ ورَسُوْلِهِ، فَمَنْ كانَتْ هِجْرَتَهُ إلَى دُنْيَا يُصِيْبُهَا أوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَجَرَ إلَيْهِ[ (رواه البخاري و مسلم)

Sesungguhnya setiap amal itu karena niatnya. Dan bagi setiap orang itu apa yang diniatkan. Maka barangsiapa  yang (niat) hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya, berarti hijrahnya itu untuk (mendapatkan redha dan karena taat kepada) Allah dan Rasul-Nya. Dam barangsiapa yang hijrahnya karena kepentingan dunia yang dia kejar, atau karena seorang perempuan yang akan dia kawini. Maka jirahnya itu untuk apa yang dia niatkan itu.” (HR.Imam Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khattab RA)[22]

Kita jagalah agar api nawaitu jangan padam atau berubah di tengah jalan.

Beberapa penyebab berubahnya nawaitu ini mesti di hindari, antara lain merasa diri pandai sendiri, arogansi kata orang kini, dan juga bertindak tidak ikhlas karena ada udang di sebalik batu.

Nilai amal kita, besar atau kecil, terletak dalam niat yang menjadi motif untuk melakukannya. Tinggi atau rendahnya hasil dicapai sesuai dengan tinggi atau rendahnya mutu niat orang mengejar hasil itu. Amal kita yang sudah-sudah dan yang akan datang akan kering dan hampa. Sekiranya amal lahir dilakukan, tetapi tujuan nawaitu-nya kita anjak.

 

Dok.HMA-2000

Khitanan Massal di Muara Siberut Mentawai, satu bukti sikap

ta’awun, budaya saling bertolongan yang tumbuh  dari  surau

 

Andaikata mulai ada kelihatan di antara keluarga anak nagari tanda-tanda akan kehilangan nawaitunya, maka kewajiban kita lekas-lekas memanggil kembali. Agar jangan yang berserak, generasi yang tersebar diseluruh nagari tidak sampai terseret. Hanyut oleh arus pengejaran benda-benda yang bertebaran semata-mata. Tidak dirusak oleh penetrasi budaya luar. Nawaitu yang benar mengajarkan kita semua untuk selalu mempergunakan jalan-jalan yang telah di  rintiskan sejak dahulu. Yakni adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.

Asal hal-hal yang mengarah kepada berubahnya nawaitu ditengah jalan itu, lekas-lekas dapat dipintasi, Insya Allah anak nagari akan masuk shaf kembali, “kok io kito ka-badun sanak juo ……….!” Tugas suluah bendang dalam nagari adalah merapatkan barisan kembali. Sebagai orang akan melaksanakan shalat jamaah.

]سَوُّوا صُفُوْفَكُمْ، فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوْفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاَةِ[ (متفق عليه)

Luruskan dan rapatkan saf, karena meluruskan dan merapatlan saf itu menjadi bagian dari shalat berjamaah (HR.Muttafaq ‘alaih).

Keadaan masing-masing kita ini tidak banyak berbeda dari keadaan umat di nagari-nagari yang hendak kita rintiskan jalannya itu.

Berkat kemurahan Ilahi dan bersama menjadikan surau tempat berkomunikasi, dapat mendorong perbaikan ekonomi umat di nagari-nagari. Rasa bahagia tertinggi, bila rintisan itu menjadikan  ribuan dapur  berasap karenanya.  Tak ada bahagia dalam kekenyangan sepanjang malam. Apabila si-jiran setiap akan tidur dengan lapar.

 

Masing-masing kita adalah sebahagian dari mereka.

Sesuai ajaran syarak itu, mestinya dapat diwujudkan dalam pemahaman masyarakat dengan kalimat sederhana. Ikrar kekeluargaan masyarakat di nagari.

Sebaik-baik kerja di urat masyarakat. “Sedikit sama di cacah, banyak sama di lapah”.

]اُعْبُدُوْا الرَّحْمَنَ، و أطْعِمُوا الطَّعَامَ، و أفْشُوا السَّلاَمَ، تَدْخُلُ الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ[ (رواه الترمذي و أحمد و البخاري)

Sembahlah Allah Yang Maha Rahman, beri makanlah orang yang perlu di beri makan, kibarkanlah salam, niscaya akan masuk sorga dengan salam. (HR.Tirmidzi, Ahmad dan Bukhari)


Catatan Kaki

[1] Bersasok berjerami, artinya memiliki sawah dan ladang. Berpandan berpekuburan, mempunyai pandam pekuburan yang jelas, milik kaum atau milik nagari. Berlabuh bertepian. Berumah bertangga. Berkorong berkampung. Bersawah berladang. Berbalai adat dan bermasjid. Itulah perangkat sebuah Nagari di Minangkabau.

[2] Balairung (balai adat) tempat menghukum (mengadili). Berair jernih bersayak landai. Airnya jernih, ikannya jinak. (Artinya di dalam menghukum perkara selalu melakukan secara jernih). Hukumnya adil, kata (putusan)nya benar. Tidak ada dendam dan kesumatpun habis.  Hukum jatuh, sengketapun putus. Artinya tidak ada maksud melakukan pembalasan sesudah ada putusan di balai adat. Karena putusan itu dirasakan adilnya  oleh semua pihak yang bersengketa. Inilah fungsi balai adat di Minangkabau.

[3] Masjid tempat beribadah. Tempat berlafaz bermakna. Tempat belajar Alquran 30 juz. Tempat mengaji sah dan batal. Inilah fungsi masjid dan surau di Minangkabau. Memang di surau tidak ada yang dapat di cari benda-benda (materi), kecuali hanya bekal ilmu, hikmah dan kepandaian-kepandaian untuk mengharungi hidup di dunia ini, dan dalam mempersiapkan hidup di akhirat. Sebagai terungkap di dalam Peribahasa Minangkabau, “bak batandang ka surau”, karena memang surau tak berdapur (Anas Nafis, 1996:464 –Surau-2).

[4]H.Idrus Hakimy Dt. Rajo Pengulu dalam Rangkaian Mustika Adat basandi syarak di Minangkabau, menyebutkan kedua lembaga – balairung dan mesjid – ini merupakan dua badan hukum yang disebut dalam pepatah : “Camin nan tidak kabuah, palito nan tidak padam” (Dt.Rajo Pengulu, 1994 : 62).

[5] Pariangan menjadi tampuk tangkai. Pagaruyung pusat Tanah Datar. Tigo Luhak orang menyebutkan. Adat dan Syarak jika bercerai. Tempat bergantung yang telah putus (serkah). Tempat berpijak yang telah runtuh (terban). Perpaduan Adat dan Syarak di Minangkabau masa dulu itu menjadi undang-undang anak nagari. Undang-undang tersebut dilaksanakan dengan sempurna. Karena itu, kehidupan bermasyarakat terjamin aman dan tenteram.

[6] HR.Thabrani di dalam al Ausath dan Abu Nu’aim dari Ibnu Sa’ad. Albani menghasankan di dalam Shahih al Jami’ as-Shaghir.

[7] Terdorong jejak menurun, tertukik jejak mendaki. Adat dan Syarak jika tersusun. Bumi senang padi menjadi. Adagium adat basandi syarak di Minangkabau, adalah kaedah hidup bermasyarakat yang dipakai sehari-hari. Apabila adat dan syarak tidak di pakai lagi, bencana yang akan datang.

[8] Yang lorong tanami tebu. Yang tunggang tanami bambu. Yang gurun (kering) dijadikan parak (ladang untuk ditanami palawija dan tanaman tua). Yang bancah (berair) dijadikan untuk sawah. Yang munggu (ketinggian) jadikan pandam pekuburan. Yang gaung (berair dalam) untuk tebat ikan. Yang rawang untuk renangan itik. Artinya pemanfaat lahan sesuai dengan kondisi tanah dan tidak ada yang terbuang percuma.

[9] Penghulu pada setiap suku sering disebut ninik mamak nan gadang basa batuah, atau nan di amba gadang, nan di junjung tinggi, sebagai suatu legitimasi masyarakat nan di lewakan.

[10] Dapat disebut dengan panggilan urang siak, tuanku, bilal, katib Nagari, imam suku, dll dalam peran dan fungsinya sebagai urang surau, cendekiawan, pemimpin agama Islam. Gelar yang ditekankan kepada pemeranan fungsi di tengah denyut nadi kehidupan masyarakat anak nagari.

[11] Boleh saja terdiri dari anak nagari pejabat pemerintahan, ilmuan, surau tinggi, hartawan, dermawan.

[12] Para remaja, angkatan muda, yang dijuluki dengan nan capek kaki ringan tangan, nan ka disuruah di sarayo = cepat kaki dan ringan tangan, rajin dan cekatan.

[13] Kalangan ibu-ibu, yang sesungguhnya ditangan mereka terletak garis keturunan dalam sistim matrilinineal dan masih berlaku hingga saat ini, lebih jelasnya di ungkap di dalam Pegangan Penghulu, Bundo Kanduang di Minangkabau, adalah menjadi “limpapeh rumah nan gadang,umbun puruak pegangan kunci, pusek jalo kumpulan tali, sumarak dalam Nagari , nan gadang basa batuah” (Idrus Hakimy, 1997 : 69 – 116)

[14] Enggang dan kekek cari makan. Terbang kepantai keduanya. Panjang dan singkat dipaulehkan (dipertautkan). Makanya sampai yang dicita-citakan.

[15] Adat hidup tolong menolong. Adat mati jenguk menjenguk. Adat isi beri memberi. Adat tidak, pinjam meminjam.

[16] Kerja baik saling berhimbauan. Kerja buruk berhambauan (Artinya, selalu menghadapi semua persoalan secara bersama).

[17] Penggirik (pelobang) pisau siraut (yang tajam dan runcing). Bertongkat batang lintabung. Setetes jadikan laut. Sekepal jadikan gunung. Alam terkembang jadikan guru. Belajar kealam guru pertama manusia.

[18] Bukti kecintaan ke Nagari ini banyak terbaca dalam ungkapan-ungkapan pepatah hujan ameh dirantau urang hujang batu diNagari awak, tatungkuik samo makan tanah tatilantang samo mahiruik ambun.

[19] Muttafaq ‘alihi (sepakat perawi hadist) dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah, lihat Lu’Lu’ wal-Marjan (1334-1335).

[20] Atau disebut juga “stock of produced means of production”.

[21] Tersebut oleh al Hafidz al Munzhiri didalam kitab at Targhib wa at  Tarhib bahwa sanad hadist ini hasan. Pada kitab al Munthaqa min Targhib wa Tarhib hadist (no.1578).

[22] (HR.Imam Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khattab RA). Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya pada kitab al-Iman, bab “Maa Jaa’a Anna al A;’-maal bin Niyyah”. Dan Imam Muslim dalam kitab al-Ijarah, bab Qauluhuu Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam. “Innama al-A’maal nbin-Niyyah”, pada urutan hadist nr.1907. Sesungguhnya hadist ini masyhur, karena itu banyak pengutip hadist ini tidak memangdang perlu lagi men-takhrij hadist ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s