Meningkatkan Mutu Anak Nagari


Meningkatkan Mutu SDM anak nagari melalui kerja keras. Menguatkan potensi yang sudah ada melalui program unggulan, kaderisasi. Menumbuhkan SDM Nagari yang sehat dengan gizi cukup. Meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (terutama terapan). Peningkatan peran serta masyarakat mengelola surau. Sistim terpadu  menjadi bagian integral dari masyarakat Muslim di Ranah Minangkabau.

Maninjau dari Ambun Pagi, gabungan antara danau yang menjadi sumber pendapatan anak penduduk diselingkar danau, serta tanah pertanian yang subur menjadi sumber penghasilan manakala anak nagari rajin dan tidak malas mengolahnya

Persaingan pasar sangat ditentukan oleh speksifikasi unsur “kepercayaan” (trust). Kenyataan di temui di nagari-nagari memang sangat berbeda dengan pernyataan Francis Fukuyama (1997) yang mengemukakan  tesis kesejar­ahan telah berakhir saat ini (The End of History). Sesungguhnya yang berlaku adalah bahwa tesis kesejarahan ada pada setiap saat dan tempat.

Ada pergantian masa untuk manusia (wa tilka al-ayyamu nudawilu-haa baina an-naas), dan perjalanan sejarah belum berakhir.[1]

Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. (QS.Ali Imran : 140)

Ajaran syarak Islam mampu memberikan jalan keluar (solu­si) terhadap problematika sosial umat manusia. Keyakinan kepada agama Islam (di dalam syarak di sebut aqidah Islamiyah) menjadi landasan berpijak. Motivasi untuk berbuat dan berharap pada setiap yang mempercainya. Keyakinan tauhid itu terhunjam dan berurat berakar di dalam hati manusia. Dengannya mampu menangkap tanda‑tanda zaman, perubahan sosial, politik, ekonomi dan perkisaran masa di sekitarnya. Mampu membaca zeitgeist tanda‑tanda zaman karena  beriman kepada Allah.

Perbedaan pemikiran dikuatkan  dzikrullah dengan pemikiran bertumpu paham kebendaan, seperti  positivisme dzikrullah dan apatisme thagut (syaithaniyah).

]مثل الذي يذكر ربه والذي لايذكر ربه مثل الحي والميت[

Perbandingan antara orang yang mengingat tuhan dengan yang tidak mau mengingat tuhannya, sama seperti perumpamaan antara orang yang hidup dan yang mati. (HR. Imam Bukhari, Shahih al Bukhari, Kitab Ad Da’wat)

Apatisme dalam perubahan sosial, politik dan ekonomi tersebut adalah selemah‑lemah iman (adh’aful iman).

Salah satu bangunan surau masa dulu di Minangkabau dibangun  sederhana,  kokoh dengan misi membangun umat di nagari.

Sikap diam (apatis) dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi hanya  dapat dihilangkan dengan,

  • mengerjakan sesuatu yang dapat dikerjakan, artinya berbuat sesuai kemampuan,
  • jangan membiarkan diri terkurung kepada pemikiran yang tidak mungkin dikerjakan,
  • memulai dengan apa yang ada, karena dengan yang ada itu sudah dapat memulai sesuatu,
  • jangan berpangku tangan dengan menghitung orang yang lalu lalang, dan membiarkan diri ketinggalan.

Konsep ini adalah amanat syarak (Islam) di dalam menghadapi perubahan sosial, politik dan ekonomi. Betapa kecilpun perubahan tidak boleh dinanti tanpa kesiapan. Namun, selalu memanfaatkan hubungan diri (kemampuan anak nagari) dengan kehidupan dunia luar di sekitarnya. Sikap hidup menjemput bola adalah sikap hidup sesuai ajaran Islam. Bergerak, berusaha, proaktif dan inovatif adalah cara-cara paling tepat mengantisipasi selemah‑lemah iman. Kata kunci perubahan sosial, politik dan ekonomi yang dikembangkan syarak (agama Islam) melalui tiga cara hidup, yakni,

  • bantu dirimu sendiri (self help),
  • bantu orang lain (self less help), dan
  • saling membantu dalam kehidupan ini (mutual help),

Konsep hidup ini  mengajarkan seseorang untuk tidak mesti selalu tergantung kepada orang lain.

Ketergantungan menempat­kan orang terbawa kemana‑mana. Menjadi tak berdaya di tangan yang menjadi tempat bergantung. Mengokohkan perpegangan agama dan   pemahaman syarak menjadi kerja paling utama.

]و مَنْ يُرِيْدُ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ[

Barangsiapa yang Allah SWT kehendaki akan kebaikan,  maka Allah SWT akan menakdirkannya tahu akan urusan agamanya. (HR.Muttafaq ‘Alaih dari hadist Mu’awiyah)

Tanah Pertanian yang walaupun sempit tapi diolah dengan baik akan mendatangkan hasil yang menjamin kesejahteraan anak nagari

Anak nagari berusaha  memanfaatkan alam anugerah Allah di   sekitar  Kampung  halaman mereka. Dengan demikian, anak nagari menjadi sehat rohani. Terjaga dengan norma-norma adat. Sehingga anak nagari menjadi masyarakat beradat yang beragama (Islam).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi`ar-syi`ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian (mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. 5, al Maidah  : 2)

Menggali potensi SDA di nagari diselaraskan dengan perkembangan global yang tengah berlaku. Memperkuat ketahanan ekonomi rakyat. Membangun kesejahteraan dimulai dari pembinaan unsur manusianya, dari self help (menolong diri sendiri) kepada mutual help. Tolong-menolong, puncak budaya adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.

Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa,” (QS.16, an Nahl : 30).

Salah satu Masjid di tengah nagari di Minangkabau, dikeliling  sawah ladang anak nagari dalam  mengolah kehidupan.

Ihsan berbuat baik dan ta’awun tolong menolong sesuai dengan anjuran Islam. Bantu membantu, ta’awun, mutual help dalam rangka pembagian pekerjaan (division of labour) menurut keahlian masing-masing ini, akan mempercepat proses mempertinggi mutu yang dihasilkan. Itulah taraf ihsan yang hendak di capai. zakat sebagai sarana pembersih harta dan upaya memperkuat paradigma umat.


Filosofi Minangkabau Memerangi Kemiskinan

Sumatra Barat, dengan akar budaya Minangkabau, sangat basitungkin (intensif) mengantisipasi berkembangnya kemiskinan. Akan tetapi luas dan letak tanah di Minangkabau sebenarnya kurang bersahabat. [2]

Masa doeloe seketika tanah-tanah itu belum diolah, hanya dijadikan tempat mencari kayu api. Paling tinggi tempat simpanan kayu pembuat rumah atau untuk mencari akar-rotan. Persawahan dan perladangan anak nagari adalah hasil taruko ninik mamak. Sawah bajanjang bapamatang dan ladang babiteh babentalak. Dari mamak turun ke kemenakan. Letaknya di sekeliling Dusun Taratak. Bahkan, di keliling rumah tempat diam. Kemudian berkembang dusun menjadi nagari. Nagari masuk lurah. Anak kemenakan ikut bertambah. Rumah kecil tak mampu menampung jumlah cucu dan cicit. Bangunan barupun ditegakkan. Tanah persawahan menjadi satu-satunya pilihan untuk batagak rumah. Manaruko hutan menjadi sawah, tidak lagi merupakan kebiasaan masa kini. Yang lazim terjadi adalah menjual tanah pusaka.

Akhirnya bahaya kemelaratan datang mengancam. Berkurangnya  areal sawah menjadi lokasi perumahan. Di sini datangnya krisis bertalian sentra pertanian dan peternakan dikaitkan dengan sumber pendapatan.

Sebenarnya, masyarakat Minangkabau, tidak dapat dikatakan miskin dan belum pula bisa dikatakan berada.

Mereka tetap bisa hidup dan bertahan hidup, di areal yang makin terbatas. Ini dimungkinkan, karena adanya peran budaya Minangkabau. Dari awal, budaya itu intensif mengantisipasi gejala kemiskinan. Antara lain,

Karatau madang di ulu,

ba buwah ba bungo balun,

marantau-lah buyuang dahulu,

di rumah paguno balun.[3]

Adanya kebiasaan merantau menjadikan pemuda-pemuda Minangkabau, mencari hidup di lahan lain. Modalnya keyakinan. Kemauan dan tulang delapan karat. Merantau menuntut ilmu untuk hidup.

Dinamika lahir di dukung segala kekurangan berbungkus kemiskinan. Modal nya sangat besar. Kemauan yang kuat ingin maju. Mengubah diri.

Di kampung, anak dara gadis Minangkabau, tidak pula dibiarkan hidup cengeng. Mereka diajar bertani, merenda, menjahit, menyulam. Dibekali berbagai kepandaian puteri lainnya. Kepandaian-kepandaian semacam itu, kini mulai terasa langka.

Kalau kemiskinan, tidak dirasakan sebagai bahaya, hanya karena pandai batenggang. Sesuai bunyi pantun;

Alah bakarih samporono,

Bingkisan rajo majopaik,

tuah basabab bakarano

pandai batenggang di nan rumik.[4]

Padi menguning di tengah sawah di sekitar kampung dan nagari, sumber penghidupan anak nagari

Falsafah budaya ini tidak pernah menumbuhkan masyarakat statis. Lahir dari filosofi hidup tersebut sikap jiwa digjaya. Satu iklim jiwa (mentalclimate) yang subur.

Apabila pandai menggunakannya dengan tepat, akan banyak membantu dalam usaha pembangunan sumber daya manusia di ranah ini. Egoistis jarang bersua dalam budaya Minangkabau. Membiarkan orang lain melarat, dengan menyenangkan diri sendiri, sikap yang tak pernah diwariskan. Jika sekarang bertemu, itulah pengaruh dari luar. Tenggang manenggang dan raso jo pareso menjadi sikap hidup. Halusnya alur dan patut.

Mengatasi masalah kemiskinan ditengah masyarakat Minangkabau, khusus mesti terarah kepada memakmurkan anak nagari secara lahiriyah (material). Agar  untaian pepatah yang menyibakkan arti kemakmuran itu dapat menjadi kenyataan.

Manjilih di tapi aie

Mardeso di paruik kanyang.[5]

Komplek Perkampungan Minangkabau di Padangpanjang. Kekayaan alam Minangkabau tersimpan di dalam kecantikan alam dan keindahan budayanya. Pada bangunan Rumah Bagonjong dan Rangkiang tersimpan filosofi besar untuk digali. Kemakmuran dapat diwujudkan dengan hemat dan kerja keras. Mau belajar kepada alam.


Catatan kaki

[1] Sesuai Sunatullah “ inna az-zamaan qad istadara” (al Hadist), artinya zaman berubah dan musim selalu berganti.

[2] Prof. Emil Salim mengatakan, “Dari keseluruhan wilayah Sumatra Barat, hanya sekitar 14 persen saja yang kondisi tanahnya subur dan cocok untuk areal pertanian.”. Singgalang, Rabu, 7 Juli 1993, Musyawarah Pola Dasar Pembangunan Sumbar.

[3] Keratau madang di hulu. Berbuah berbunga belum. Merantau buyung dahulu. Di rumah berguna belum.

[4] Sudah berkeris sempurna. Bingkisan raja Majapahit. Tuah bersebab  berkarena. Pandai bertenggang pada yang rumit. Artinya, hemat dan pandai melewati masa sulit akan menjadi anak nagari kembali kepada tuah kejayaannya.

[5] Menjilih (berbersih-bersih) hanya mungkin di  tepi air. Merdeso (leluasa) hanya mungki di perut kenyang. Kaleluasaan dan kemerdekaan bertindak, berpikir oleh anak nagari akan hilang kalau perut mereka kosong. Anak nagari otomatis akan menjadi budak di tangan orang yang memberinya makan. Bagaimana jadinya kalau yang memegang pusat-pusat kekuatan ekonomi nagari itu adalah bangsa asing ??? Nagari Minangkabau akan tertindas kembali. Karena itu wujudkan segera peraturan yang jelas tentang aset nagari, terutama hak ulayat mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s