Kembali Ke Surau membina Umat


Umat Islam di Ranah Minangkabau menjadikan surau sarana perguruan membina anak nagari. Fungsinya tidak semata menjadi tempat ibadah mahdhah (shalat, tadarus, dan pengajian majlis ta’lim). Menjadi tempat tumbuh lembaga perguruan anak nagari yang dimulai dari akar rumput.

Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya, apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS.IX, at Taubah, ayat 122).Rumah Gadang dan Surau berdampingan di Ranah Minang

Kekuatan surau adalah kuatnya jalinan hubungan masyarakat saling menguntungkan (symbiotic relationship). Sanggup menjadi pusat kekuatan perlawanan membisu (silent opposition) terhadap penjajah.

وَمَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا، فَهُوَ فِي سَبِيْلِ اللهِ                                                                       متفق عليه

Siapapun yang berjuang untuk meninggikan kalimat Allah — kalimatulli hiyal ‘ulya –, dan mereka mati dalam perjuangan itu, maka sungguh dia sudah berada dalam jihad fii sabilillah. (HR.Muttafaq ‘alaihi)

Alam Minangkabau belum lengkap kalau tidak mempunyai Masjid (musajik) atau surau tempat beribadah. Identitas surau sesuai  personifikasi pemimpinnya.

Surau adalah pusat pembinaan umat. Menjalin hubungan bermasyarakat yang baik (hablum-minan-naas). Terjamin pula ibadah dengan Khalik (hablum minallah).

Adanya balairuang dan musajik (surau) ini menjadi lambang utama terlaksananya hukum[1] dalam “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah., syarak mangato adat nan kawi syarak nan lazim”.

Surau dalam batas adat salingka nagari , hidup pada masyarakat  pluralis

Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah (bangsa-bangsa)dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal …. (QS.49, al Hujurat : 13)

Apabila sarana-sarana ini berperan sempurna, masyarakat kelilingnya hidup dengan akhlak terpuji. Perangai mulia berakhlakul-karimah. “Adaik jo syarak kok tasusun, bumi sanang padi manjadi”.

Surau masa dulu di tengan perkampungan Minangkabau, contohnya Masjid Padang Luar Banuhampu. Pada masa dahulu masih memakai atap ijuk, dan  zaman sekarang sudah dilakukan berapa kali perubahan. Renovasi pembangunan  disesuai kan dengan permintaan zaman. (Dok.Minangkabau)

Kembali BERSURAU

Mestinya surau lebih sesuai menjadi pusat pembinaan umat. Satu anak tangga dari jenjang bermasyarakat di nagari yang teguh melaksanakan prinsip musyawarah (demokrasi).

Masjid Nurul Iman Kotogadang IV Koto sebelum runtuh oleh gempa

Surauadalah pondasi dasar dan utama dalam menerapkan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Dukungan masyarakat adat dan kesepakatan tungku tigo sajarangan, bundo kanduang dan rang mudo, menjadi penggerak utama mewujudkan tatanan sistim di nagari. Konsepnya tumbuh dari akar nagari sendiri.

Masyarakat  Minangkabau yang beradat dan beragama  ingat kepada  hidup sebelum mati dan hidup sesudah  mati.

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS.Ar-Ra’du : 11)

Peran dakwah di Ranah Minangkabau sekarang ini adalah menyadarkan umat dalam membentuk diri mereka sendiri.

Masjid di kelilingi perkampungan dan tempat usaha anak nagari di Padang. Kenyataan sosial terhadap anak nagari diawali dengan mengakui keberadaan puncak-puncak kebudayaan mereka, dan mendorong kepada satu bentuk kehidupan bertanggung jawab. Inilah tuntutan Dakwah Ila-Allah.

Seruan atau ajakan kepada Islam yang diberikan Khaliq untuk manusia, yang sangat sesuai dengan fithrah manusia itu. Islam adalah agama Risalah, dan penyiarannya dilanjutkan oleh dakwah. Di Ranah Minangkabau tempat nya adalah surau atau masjid.

Keberhasilan suatu upaya dakwah (gerak dakwah) memerlukan pengorganisasian (nidzam). Perangkat organisasi surau, selain orang-orang, adalah juga peralatan dakwah dan penguasaan kondisi umat, tingkat sosialnya dan budaya yang melekat pada tata pergaulan mereka yang dapat dibaca dalam peta dakwah.

Bimbingan syarak mengatakan  al haqqu bi-laa nizham  yaghlibuhu al baathil bin-nizam. Artinya, tanpa mengindahkan pengaturan (organisasi) selalu akan kalah oleh kebatilan yang terorganisir. Pekerjaan mengajak manusia akan berhasil dengan ilmu, hikmah, akhlak dan menyeru kejalan Allah, dengan petunjuk yang lurus. Maka, da’i (Imam khatib di Nagari) adalah pewaris tugas Nabi Muhammad Rasulullah S.A.W.

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (QS. Saba’, 34 : 28).

Anak-anak dan amak-amak mengaji ke surau. Menghidupkan surau (masjid) dalam masa ini adalah menetapkan visi untuk menentukan program pembinaan di tengah anak nagari yang akan mendukung percepatan pembangunan nagari itu. Koordinasi akan mempertajam faktor pendukungnya.

Hai Nabi sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mu’min bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah. (QS.Al-Ahzab, 33 : 45-47).

Seruan untuk menyembah Allah, kepada seluruh manusia. Tidak boleh musyrik. Meminta hanya kepadaNya dan mempersiapkan diri kembali kepadaNya.

Kaedah syarak akan mendorong keberhasilan dakwah menghidupkan adagium adat basandi syarak syara; basandi Kitabullah. Aktualisasi Kitabullah (nilai-nilai Alqurani) hanya dapat dilihat melalui gerakan amal nyata yang terus menerus terkait dengan seluruh segi kehidupan anak nagari, seperti kemampuan bergaul, mencintai, berkhidmat, menarik, mengajak (dakwah), merapatkan potensi barisan (shaff) mengerjakan amal-amal Islami secara jamaah.

Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. BagiNyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (QS.Al Qashash, 28 : 87)

Tugas ini menjadi tugas para Rasul. Manusia (umat) sekarang menjadi penerus dakwah sepanjang masa. Terlaksananya tugas-tugas dakwah dengan baik akan menjadikan umat Islam mampu menjawab harapan masyarakat dunia.[2]

Maka perlu setiap Da’iImam, Khatib, Urang Siak, Tuanku, alim ulama suluah bendang di nagarinagari —  meneladani pribadi Muhammad SAW

Ziarah ke makam Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam disamping Raudhah selalu padat oleh umat

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab, 33 : 21)

Contoh di dalam membentuk effectif leader menuju kepada inti dan isi Agama Islam (tauhid).

قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

Katakanlah bahwa berimanlah dengan Allah dan  istiqamah, tetap pendirian. Konsisten mengimplemhapusikan dengan Akhlak.

و خَالِقِ النَّاسَ بِخُلْقٍ حَسَنٍ

Diciptakan manusia dengan perangai yang baik (terpuji). Umat kini akan menjadi baik dan  berjaya, bila sebab-sebab kejayaan umat terdahulu di kembalikan.

إلَهِي أنْتَ مَقْصُودِي ورِضَاكَ مَطْلُوبِ

Tuhanku, Engkau semata tujuan hidupku. Dan keredhaan-Mu semata pula yang aku tuntut.

Kita mestinya bertindak atas dasar syarak ini. Mencari redha Allah, dan mengajak orang lain untuk menganutnya.

Allah menghendaki kelestarian Agama dengan mudah, luwes, elastis, tidak beku dan tidak berlaku bersitegang. Usaha ini akan menjadi gerakan antisipatif terhadap arus globalisasi negatif abad sekarang.

“Memulai dari diri da’i, mencontohkannya kepada masyarakat lain”.

Inilah cara yang tepat.

Mengembangkan surau berorihapusi kepada mutu. Sehingga pembinaan surau berkembang menjadi center of exellence, yang menghasilkan generasi berparadigma ilmu komprehensif. Terintegrasinya pengetahuan agama, budi akhlaq dan keterampilan (memasak, menjahit, mengaji, bersilat) yang mendorong anak surau sanggup hidup mandiri.

Peran surau menghidupkan adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah menjadi tugas setiap insan anak nagari yang telah terikat dalam “umat dakwah” menurut Kitabullah – yakni nilai-nilai Alqurani di bawah konsep mencari ridha Allah.

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.(QS. Ali Imran, 3 : 104 )

Masjid Ganting satu dari bentuk penggabungan pendidikan surau di Minangkabau sejak awal berdirinya, dan pada masa ini hanya menjadi cagar budaya wisata religi atau wisata dakwah di Kota Padang, semula dibangun oleh suku dan penduduk disekitar sebagai tempat pembinaan generasi yang lahir disekitar

Peningkatan kualitas pembinaan umat melalui surau dapat dicapai. Organisasi suaru lebih menjadi viable — dapat hidup terus, berjalan tahan banting, bergairah, aktif dan giat – menurut permintaan zaman, dan durable – yakni dapat tahan lama – seiring perubahan dan tantangan zaman. Peran serta masyarakat adalah  menerapkan manajemen mengelola surau lebih accountable dari segi keuangan maupun organisasi.

Kitabullah mendeskripsikan agama Islam adalah sempurna, utuh dan di ridhai.

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.Al Maidah, 5 : 3)

Melalui peningkatan ini, sumber finansial masyarakat dapat di pertanggung jawabkan secara lebih efisien.

Gerakan Kembali Ke Suaru perlu di sosialisasikan bersama-sama

Setiap Muslim, dengan nilai-nilai Kitabullah wajib mengemban missi  mulia yaitu merombak kekeliruan ke arah kebenaran secara hakiki di dalam “perjalanan kepada kemajuan (al madaniyah)”.

Visi Kembali ke Surau berkehendak kepada gerak yang kontinyu, utuh dan terprogram mengujudkan kehidupan agama yang mendunia (dinul-harakah al-alamiyyah).

Pengembangan surau di dalam peran pembinaan anak nagari harus dapat menjadi core, inti, mata dan pusar dari learning society, masyarakat belajar. Sasarannya, membuat anak nagari generasi baru menjadi terdidik, berkualitas, capable, fungsional, integrated di tengah masyarakatnya.


Catatan kaki

[1] Oleh H.Idrus Hakimy Dt. Rajo Pengulu dalam Rangkaian Mustika Adat basandi syarak di Minangkabau, menyebutkan kedua lembaga – balairung dan mesjid – ini merupakan dua badan hukum yang disebut dalam pepatah : “Camin nan tidak kabuah, palito nan tidak padam” (Dt.Rajo Pengulu, 1994 : 62).

[2] Diperlukan watak-watak, yang ditunjukkan oleh pendakwah pertama, Rasulullah SAW (Mohammad Natsir, Tausiyah 24 tahun Dewan Dakwah, Media Dakwah, Jakarta 1992, Dakwah kita adalah Dakwah Ila-Allah).

2 thoughts on “Kembali Ke Surau membina Umat

  1. Assalamualaikum buya…..
    sabalum bacarito, izin kan ambo mamperkenalkan diri, ambo majopakiah dari luhak nan tuo, kok umua ambo baru mudo mata, ambo lahia 28 tahun yang silam dikanagarian pd.gantiang, adopun niaik jo makasuik sasuai jo pitatah urang tuo tuo kito “batanyo ka nan tau , baraja ka nan pandai, kok salah jo sasek tolong tunjuakkan. nan ka manjadi paertanyaan ambo… :
    perihal surau atau musajik kito nan ado diranah minang ko indak bisa lai manjadi tampek musafir malapeh panek atu menjalankan ibadah, tampek persinggahan sejenak dek perjalanan nan jauah ka ditampuah…
    fenomena nyo bantuak ko buya, ambo caliak ambo paratian, labiah kurang satu jam sasudah sholat berjemaah dilaksanakan masajid atau surau kito ala bagombok ala dikunci, kok lampu ala bamatian semisal malam hari, bantuak tu lo tampek bauduak nyo bagombok, yang ambo tau masajik ko tampek beribadah tampek menjalin tali silaturahmi sesama muslim apo lai kito urang minang, “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. kok pemuda-pemuda nyo dulu siap mangaji lalok di surau atau masajik, Manga surau atau musajik ko musti bakunci? atau memang harus dikunci dek suasana yg dak aman barangkali, tapi dak mungkin pulo itu yang manjadi permasalahan nyo, kito urang muslim sajo mandanga masajik digaduah atau rusak,sakampuang urang ka berang… bataruah angok kito lai namuah mah,,,,
    Kondisi ko marato di tiok daerah di sumbar ko tampak dek ambo buya.
    itulah buya nan mangganjal dalam hati ambo,
    tarimo kasih atas perhatian dan waktu nya.
    wasalam.

    • Manga bakunci ??? manga indak rami ??? manga dan manga ?? itulah pertanyaan orang kini yang melihatnya sebagai sebuah pandangan mata kepala yang terbiasa dikampung halaman kini … Persoalan pertamanya adalah karena kita tidak diajak dan diajarkan lagi untuk menjaga dengan baik milik kita bersama yang bernama “surau, musajik, langgar, mushalla dan rumah ibadah” itu .. kita hanya memerlukannya sekali sekali .. tidak terus menerus .. seingat Buya kalau pengelolaan dan penjagaannya di serahkan kepada umat yang membangunnya dan kepada masyarakat yang ada disekitarnya .. Insyaallah tidak perlu di gembok .. termasuk pemeliharaan itu adalah .. membersihkannya, menjaga kebersihannya, menjaga kesuciannya, memelihara imarahnya dan sebagainya yang terkait dengan itu .. jadi tugas panguruih musajikl adolah maimbau umaik untuk basamo manjago no .. Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s