Gerakan pendidikan bernuansa surau


Gerakan Pendidikan

bernuansa Surau


H. Mas’oed Abidin

Mukaddimah

Sudah lama kita mendengar ungkapan, “jadilah kamu berilmu yang mengajarkan ilmunya, atau belajar (muta’alliman), atau menjadi pendengar (mustami’an). Dan, jangan menjadi kelompok keempat, yang tidak memiliki aktifitias keilmuan sama sekali. Yakni, tidak mengajar, tidak pula belajar, serta enggan untuk mendengar”.

Peran Du’at atau Guru di tengah umatnya, adalah sesuatu pengabdian mulia, dan tugas sangat berat. Suluah Bendang di Nagari wajib diberi amanah peran pelopor pembangunan (agent of changes). Bekal utama adalah keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT, hidup beradat, berakhlaq mulia. Inilah, yang menjadi program utama di dalam pendidikan bernuansa surau (sistim halaqah).

Tugas itu berat. Umat hanya mungkin dibentuk melalui satu proses pembelajaran, dengan pengulangan terus menerus (kontiniutas), pencontohan (uswah) yang baik. Pekerjaan ini memerlukan ketaletenan dan semangat yang prima.

Kemuliaan Du’at terpancar dari keikhlasan membentuk umat dan anak manusia menjadi pintar, beriman, berakhlaq, berilmu, mengamalkan ilmunya, untuk kebaikan diri sendiri, keluarga, dan kemaslahatan umat di kelilingnya, serta mempunyai ibadah yang teratur, shaleh pribadi, dan shaleh sosial, dengan tauhid yang istiqamah.

Keberhasilan pendakwah, muballigh, mu’allim, dan murabbi (guru) akan banyak didukung oleh kearifan, yang dibangun oleh kedalaman pengertian, pengalaman dalam membaca situasi, serta upaya dan kondisi yang kondusif di sekitarnya.

tantangan di alaf Baru, abad ke 21

Alaf Baru, di abad keduapuluh satu ini, ditandai oleh, (a). mobilitas serba cepat dan modern, (b). persaingan keras dan kompetitif, (c). komunikasi serba efektif, dalam satu global village, dan akibatnya, banyak ditemui limbah budaya kebaratan westernisasi.

Alaf baru ini hadir dengan cabaran global yang menuntut keteguhan, dalam menghadapi tantangan yang berjibun banyaknya.

Tantangan kontemporer ;

Ø Infiltrasi budaya sekularis yang menjajah mentalitas manusia,

Ø The globalization life style meniru sikap Yahudi,

Ø Suburnya budaya lucah (keji, cabul, hina sekali, tidak sopan, tidak senonoh)

Ø Mulai menjauh dari adat budaya luhur

Ø Pemujaan nilai rasa panca indera,

Ø Menonjolkan keindahan sensual, erotik, seronok, ganas, kesenangan badani, kebiasaan miras (minuman keras), pergaulan bebas, kecanduan madat dan narkoba.

Menghadapi tantangan ini, semua elemen masyarakat berkewajiban memper­siapkan generasi yang siap bersaing dalam era global terse­but, dengan sibghah yang nyata.

Ada juga tantangan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan bahkan menyangkut aspek kehidupan dan perilaku kemanusiaan, di antaranya ;

Ø Tidak teguh tekad Menuju Redha Allah

Ø Kalah dalam Pertarungan Hati Nurani dengan Tazkiyah Nafs berdasar Alquran

Ø Tipis pemahaman Tauhid Uluhiyah Dalam melaksanakan Kaidah Syarak

Ø Generasi Muda Minangkabau lemah di dalam melaksanakan Syarak Mangato

Ø Kurang tampil Program Keumatan, dalam Ber-Nagari dan ber-SURAU

Penyimpangan perilaku menjadi ukuran atas kemunduran moral dan akhlak. Hilangnya kendali para remaja, berakibat ketahanan bangsa akan lenyap dengan lemahnya remaja.

Penyebab utama di antaranya, rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan, hilangnya tokoh panutan, berkembangnya kejahatan di kalangan orang tua, luputnya tanggung jawab lingkungan dan masyarakat, impotensi di kalangan pemangku adat, hilangnya wibawa ulama, dan suluah bendang di nagari, bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi bisnis, dan profesi da’i, guru, dan suluah bendang, dilecehkan.

Perilaku umat juga berubah

Interaksi dan ekspansi kebudayaan dari luar, bergerak secara meluas. Pengaruh budaya asing berkembang pesat, seperti pengagungan materia secara berlebihan (materialistik), pemisahan kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik), pemujaan kesenangan indera mengejar kenikmatan badani (hedonistik).

Perilaku di atas merupakan penyimpangan sangat jauh dari budaya luhur. Pada akhirnya, melahirkan Kriminalitas, perilaku Sadisme, dan Krisis moral, secara meluas.

Perubahan dalam hidup beradat juga telah merambah Minangkabau.

Adat ndak dipacik arek, agamo ndak dipagang taguah.

Fakta menunjukkan bahwa adat tidak berdampak banyak terhadap generasi muda. Tempat bertanya tidak ada, Sudah banyak yang tidak mengerti adat. Karena itu, generasi muda di Nagari mulai kebingungan.

Manakala problematika sosial ini lupa diantisipasi melalui gerakan dakwah bernuansa surau, maka arus globalisasi ini membawa perubahan yang negatif, terutama pada perilaku generasi muda (para remaja).

Para remaja akan cenderung bergerak menjadi generasi buih, dan terhempas di pantai kehidupan, menjadi dzurriyatan dhi’afan. Generasi buih adalah suatu generasi yang berpeluang menjadi “X-G” the loses generation, tidak berani ikut serta di dalam berdayung melawan gelombang dan badai globalisasi yang deras, sehingga hilang keseimbangan.

Pada hakikatnya, hilangnya keseimbangan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, yang menyebabkan timbulnya berbagai krisis, di antaranya ;

1. Krisis nilai. Akhlaq, etika individu, dan moral sosial, serta tata pergaulan umat, telah berubah drastik. Perilaku luhur, bergeser kencang ke arah tidak acuh. Dampaknya kepada menipisnya ukhuwah. Kadang-kadang, perilaku sebagian umat, berkenan mentolerir sesuatu yang sebelumnya dikenal sebagai perbuatan maksiat.

2. Krisis konsep, dan pergeseran pandang (view) cara hidup (global life style), dan ukuran nilai (kearifan lokal dan nilai budaya luhur), mulai kabur. Sekolahan yang menjadi cerminan idealitas masyarakat tidak lagi mempertahankan pembelajaran budi akhlak.

3. Krisis kridebilitas, dengan erosi kepercayaan. Pergaulan orang tua, guru dan muballig di mimbar kehidupan, mengalami kegoncangan wibawa.

4. Krisis beban institusi pendidikan terlalu besar. Tuntutan tanggung jawab moral dan kultural dikekang oleh sistim dan aturan birokrasi. Dinamika institusi, menjadi lemah (impoten), dalam memikul beban tanggung jawab. Orientasi pendidikan beranjak dari mempertahankan prestasi kepada orientasi prestise, keijazahan, dengan beban biaya tinggi.

5. Krisis solidaritas, dan membesarnya kesenjangan miskin kaya, dan kesempatan mendapatkan pendidikan tidak merata, kurangnya idealisme generasi remaja tentang peran di masa datang.

Pergeseran budaya akan terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis, seperti kegemaran berkorupsi, aqidah tauhid melemah, perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, serta suka melalaikan ibadah.

Salah satu solusi untuk mengatasi problematika keumatan ini, adalah dengan kembali ke surau. Menjadikan surau pendidikan informal, di tengah masyarakat, tempat menambah ilmu, menguatkan amal, menanamkan akhlak, menjaga ibadah dan karakter umat, dengan berpedoman wahyu Allah SWT.

Pendidikan surau, mengajak umat kepada taqwa. Janji Allah SWT sangat tepat, ” apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi,

“ Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS.7,al-A’raf:96).

Menghidupkan Antisipasi Umat

Umat mesti diajak mengantisipasi perkembangan global agar tidak menjadi kalah. Dalam persaingan dimaksud, beberapa upaya mesti disejalankan dengan ;

a. Memantapkan watak terbuka,

b. Pendidikan aqidah tauhid,

c. Mengamalkan nilai-nilai amar makruf nahi munkar,

d. Integrasi moral yang kuat,

e. Memiliki penghormatan terhadap orang tua,

f. Mempunyai adab percakapan di tengah pergaulan,

g. Pendalaman ajaran agama tafaqquh fid-diin, berpijak pada nilai-nilai ajaran Islam yang universal tafaqquh fin-naas.

h. Perhatian besar terhadap masalah sosial atau umatisasi,

i. Teguh memilih kepentingan bersama dengan ukuran moralitas taqwa,

j. Responsif dan kritis terhadap perkembangan zaman,

k. Mengenal kehidupan duniawi yang bertaraf perbedaan,

l. Memacu penguasaan ilmu pengetahuan,

m. Kaya dimensi dalam pergaulan rahmatan lil ‘alamin,

n. Iman dan ibadah, menjadi awal dari ketahanan bangsa.

Ketahanan umat dan bangsa, pada umumnya terletak pada kekuatan ruhaniyah,

keyakinan agama dengan iman taqwa dan siasah kebudayaan.

Intinya adalah tauhid. Implementasinya akhlaq.

Dapat dilakukan dengan program kembali ke surau.

Surau adalah suatu institusi yang khas dalam masyarakat Minangkabau. Fungsinya bukan sekedar tempat sholat. Juga sebagai tempat pendidikan dan tempat mendapat pengajaran bagi anak muda. Banyak tokoh-tokoh besar di Minangkabau lahir dari surau. Pengelolaan surau sekarang bisa dihidupkan kembali. Esensi dan semangatnya lewat menggerakkan kebersamaan anak Nagari.

Du’at mesti tampil mengambil peran, karena ada gejala, adat tidak memberi pengaruh yang banyak terhadap generasi muda di Minangkabau. Dan, generasi tua, terlihat kurang pula memberikan suri teladan. Akibatnya, generasi muda jadi bersikap apatis terhadap adat itu sendiri.

Peran Du’at membentuk watak Generasi Sumatera Barat

“Indak nan merah pado kundi, indak nan bulek pado sago,

Indak nan indah pado budi, indak nan elok pado baso.

Anak ikan dimakan ikan, gadang di tabek anak tanggiri,

ameh bukan pangkaik pun bukan, budi sabuah nan diharagoi.

Dulang ameh baok balaie, batang bodi baok pananti,

utang ameh buliah bababie, utang budi dibaok mati.”

Ada enam unsur yang diperlukan untuk membentuk masyarakat yang mandiri dan berprestasi, melalui harakah dakwah, dalam pendidikan bernuansa surau ; 1. IMAN, 2. ILMU, 3. Kerukunan, Ukhuwah dan Interaksi, 4. Akhlaq, Moralitas sebagai Kekuatan Ruhiyah, 5. Badunsanak, sikap Gotong royong (Ta’awun), 6. Menjaga Lingkungan sebagai Social Capital, menerapkan Eko Teknologi.

Kegiatan kembali ke surau, mesti dijadikan upaya pendidikan dan pembinaan karakter anak nagari. Menghidupkan Dakwah sebagai pagar adat dan syarak, dalam menghadapi krisis identitas generasi muda, akibat perubahan dalam nilai – nilai adat.

Keberhasilan suatu upaya da’wah (gerak da’wah) memerlukan pengorganisasian (nidzam).[3] Perangkat dalam organisasi selain dari orang-orang, adalah juga peralatan. Satu dari peralatan terpenting adalah penguasaan kondisi umat, tingkat sosial, dan budaya, yang dapat dibaca dalam peta da’wah.

Peta da’wah, bagaimanapun kecilnya, memuat data-data tentang keadaan umat yang akan diajak tersebut. Umat masa kini, akan menjadi baik dan kembali berjaya, bila sebab-sebab kejayaan umat terdahulu dikembalikan. Bertindak atas dasar, mengajak orang lain untuk menganutnya, dan memulai dari diri sendiri, mencontohkannya kepada masyarakat lain, sebagai kekuatan dalam sistim pendidikan bernuansa surau.

Mengajak Umat mempelajari dan mengamalkan Islam

Peran Du’at dan Suluah Bendang di nagari dan di tengah umatnya, adalah pengabdian mulia dan tugas berat. Keikhlasan membentuk umat jadi pintar, beriman, berakhlaq, berilmu, beramal baik, membina diri, kemashlahatan umat, dan keluarga, menjadi panutan dan ikutan, ibadahnya teratur, shaleh peribadi dan sosial, beraqidah tauhid yang shahih dan istiqamah.

Ajakan dakwah Islamiyah yang ditujukan kepada umat, tidak lain adalah seruan kepada Islam. Yaitu agama yang diberikan Khaliq untuk manusia, yang sangat sesuai dengan fithrah manusia itu. Islam adalah agama Risalah, yang ditugaskan kepada Rasul, dan penyebaran serta penyiarannya dilanjutkan oleh da’wah, untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia.

Upaya menyiapkan Generasi berprestasi, memanfaatkan surau ;

Ø Membudayakan Wahyu Al Quran dalam memakaikan adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah, melalui pelatihan kepada generasi muda Nagari.

Ø Memberikan penyegaran pada tokoh-tokoh dengan adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah dalam halaqah ba-surau.

Ø Mengevaluasi struktur kelembagaan surau dalam menggrakkan pemerintahan Nagari.

Ø Implementasinya di dalam masyarakat, kembalikan surau menjadi pusat pendidikan masyarakat formal (madrasah berbasis surau), ataupun informal (pengajian, majlis ta’lim) dan sejenisnya, menghidupkan dakwah membangun negeri.

Perintah untuk melaksanakan tugas-tugas da’wah itu, secara kontinyu diturunkan oleh Allah SWT, supaya menyeru ke jalan Allah, dengan petunjuk yang lurus (QS.Al-Ahzab, 33 : 45-46), dan tidak boleh musyrik, serta hanya meminta kepada-Nya dan persiapkan diri untuk kembali kepada-Nya (QS.Al Qashash, 28 : 87).

Pelaksana Dakwah adalah setiap Muslim

Setiap mukmin adalah umat da’wah pelanjut Risalah Rasulullah yakni Risalah Islam. Umat yang menjadi harapan masyarakat dunia, semestinya meniru watak-watak, yang ditunjukkan oleh penda’wah pertama, Rasulullah SAW.[4] Umat dan du’at mesti berupaya sekuat tenaga untuk meneladani pribadi Muhammad SAW, dalam membentuk effectif leader di Medan Da’wah, dalam mengamalkan inti dan isi Agama Islam, yakni akhlaq Islami, Aqidah tauhid yang shahih, kesalehan, dan keyakinan kepada hari akhirat.

“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab, 33 : 21).

Membentuk Generasi Masa Depan

Perkembangan ke depan banyak ditentukan oleh peranan generasi penerus dengan ruang interaksi yang jelas. Pendakwah harus menjadi agen sosialisasi yang menggerakkan kehidupan masa depan lebih baik. Kita memerlukan generasi yang handal, dengan beberapa sikap;

a. individu yang berakhlak, berpegang pada nilai-nilai mulia iman dan taqwa, daya kreatif dan inno­vatif, dipadukan dengan kerja sama berdisiplin, kritis dan dinamis, memiliki vitalitas tinggi, tidak mudah terbawa arus, sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan.

b. memahami nilai‑nilai budaya luhur, punya jati diri yang jelas, generasi yang menjaga martabat, patuh dan taat beragama, menjadi agen perubahan, dengan motivasi yang bergantung kepada Allah,

c. memahami dan mengamalkan nilai‑nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, mempunyai motivasi dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik‑material, tanpa harus mengorbankan nilai‑nilai kemanusiaan.

Kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) dengan basis iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat. Hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional.

Pendidikan bernuasa Surau membentuk mental umat – dengan FAST -, satu ranah ruhani yang memiliki kekuatan ;

q Fathanah (Ilmiah),

q Amanah (jujur),

q Amaliyah (transparan),

q Shiddiq (lurus),

q Shaleh (Yakin terhadap akhirat),

q Setia (ukhuwah mendalam),

q Tabligh (Dialogis),

q Tauhid (Percaya kepada Allah),

q Taat (Disiplin),

Generasi baru harus mampu mencipta, menjadi syarat utama keunggulan. Keutuhan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada. Generasi muda harus dibina menjadi umat dakwah, dengan memiliki budaya yang kuat berintikan nilai-nilai dinamik yang relevan dengan realiti kemajuan di era globalisasi, yakni nilai-nilai agama Islam. Generasi masa depan (era globalisasi) mesti memiliki ; budaya luhur (tamaddun), berpaksikan tauhidik, kreatif dan dinamik, memiliki utilitarian ilmu berasaskan epistemologi Islam yang jelas, tasawwur (world view) yang integralistik dan umatik sifatnya (bermanfaat untuk semua, terbuka dan transparan).

Prakarsa umat Islam di Indonesia, terutama di Minangkabau, terhadap pendidikan dan dakwah Islam, sejak dari lembaga yang bernama surau, madrasah, pesantren, majlis ta’lim, kelompok pengajian, sangat signifikan, bahkan sangat dominan. Sepanjang sejarah pendidikan Islam di Indonesia, khusus di Minangkabau, dalam pendirian, pengembangan, pemberdayaan pendidikan di surau, madrasah, menjadi perhatian sangat besar.

Pendidikan dikembangkan dalam sisitim basurau, dengan menekankan pada pendidikan akhlak, budi pekerti, dengan penguatan du’at menjadi suluah bendang di nagari.

ü Menjalin dan membuat kekuatan bersama untuk menghambat gerakan-gerakan yang merusak Islam.

ü Menimbulkan keinsafan mendalam di kalangan rakyat tentang perlunya penghakiman yang adil sesuai tuntutan syara’ Islam.

ü Meningkatkan program untuk melahirkan masyarakat penyayang yang tidak aniaya satu sama lain.

ü Menanamkan tata kehidupan saling kasih mengasihi dan beradab sopan sesuai adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.

Membudayakan Wahyu Al Quran dalam memakaikan adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah, melalui pelatihan dan pendidikan kepada generasi muda Nagari. Memberikan penyegaran pada tokoh-tokoh dengan adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah dalam halaqah ba-surau.

Akhlak karimah adalah tujuan sesungguhnya dari proses pendidikan, dan menjadi wadah dalam menerima ilmu lainnya, dan membimbing umat ke arah amal karya, kreasi, inovasi, motivasi yang shaleh (baik). Akhlak, adalah jiwa pendidikan, Inti ajaran Agama, dan buah keimanan.

Bahasa Dakwah adalah Bahasa Kehidupan

Mendidik tidak dapat dipisah dari satu gerakan dakwah. Menggalang saling pengertian, koordinasi sesamanya mempertajam faktor-faktor pendukungnya, membuka pintu dialog persaudaraan (hiwar akhawi), untuk membentuk efektif leader, mencontoh peribadi Rasulullah SAW, menjadi satu kunci keberhasilan da’wah Risalah.

Aktualisasi dari nilai-nilai Al-Qur’an itu, hanya bisa diwujudkan dengan gerakan amal nyata yang berkesinambungan (kontinyu), dalam seluruh aktivitas kehidupan manusia, melalui kemampuan bergaul, mencintai, berkhidmat, menarik, mengajak (da’wah) , merapatkan potensi barisan (shaff), mengerjakan amal-amal Islami secara bersama-sama (jamaah).

Al-Qur’an mendeskripsikan peran agama Allah (Islam) sebagai agama yang kamal (sempurna) dan nikmat yang utuh, serta agama yang diridhai.

“ Pada hari ini, telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Aku ridhai Islam itu, jadi agama bagimu.” (QS.Al Maidah, 5 : 3).

“ … dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.“ (QS. An Nisak, 4 : 125).

Setiap Muslim, dengan nilai-nilai Al Qur’an wajib mengemban missi yang berat dan mulia, merombak kekeliruan ke arah kebenaran. Setiap muslim berkewajiban tabligh (menyampaikan), kemudian mengajak (da’wah), dan mewujudkan kehidupan (dinul-harakah al-alamiyyah). Inilah tugas dan peran “umat da’wah”. (QS. Ali Imran, 3 : 104 ). “Perjalanan kepada kemajuan” dimulai dengan apa yang ada, karena yang ada itu sebenarnya sudah amat cukup untuk memulai. Begitu mabda’ (prinsip) satu gerak amal yang disebut “harakah Islamiyah” di masa persaingan ketat sekarang.

Setiap Muslim harus melakukan perbaikan (ishlah) kualitas diri sendiri, sebagaimana arahan Rasulullah “Mulailah dari diri kamu kemudian lanjutkan kepada keluargamu dan kepada lingkunganmu” (Al Hadist), dan perbaikan kualitas lingkungan, keluarga, hubungan sosial masyarakat, sosial ekonomi, kebudayaan dan pembinaan alam lingkungan yang berkesinambungan.

Da’wah ini tidak akan berhenti dan akan berkembang terus sesuai dengan variasi zaman yang senantiasa berubah.

Di bawah Konsep Redha Allah

Peran masyarakat yang dituntut, khususnya dalam bidang dana dan daya.

1. Langkah awal menanamkan kesadaran tentang perlunya perubahan, dinamik yang futuristik, dengan penggarapan surau secara sistematik dan proaktif mendorong terbangunnya proses pengupayaan di tengah umat.

2. Langkah kedua melakukan tahapan perencanaan kerja yang terarah, terencana, mewujudkan keseimbangan antara minat (motivasi) dan keterampilan dengan pemantapan gerakan. Aspek pendidikan dan latihan adalah faktor utama dalam pengupayaan. Konsep visi, misi, kembali ke surau, sering terbentur karena lemahnya metodologi dalam operasional pencapaiannya.

3. Langkah ketiga memantapkan tahapan pelaksanaan secara sistematis (the level of actualization). Bila pendidikan bernuansa surau ingin dijadikan modus operandus pembinaan masyarakat, maka di samping kurikulum ilmu terpadu dan holistik, sangat perlu pembentukan kualita murabbi (suluah bendang di nagari) yang sedari awal mendapatkan pembinaan. Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik dan realistik.

Pemberdayaan kekuatan dakwah, dituntut adanya manajemen pendidikan berbasis umat yang lebih accountable, baik dari sisi pertanggungan jawab keuangan maupun organisasi, sehingga menjadi viable (dapat hidup terus, berjalan, bergairah, aktif dan giat) dan juga durable (dapat tahan lama) sesuai perubahan dan tantangan zaman.

Pengembangan dakwah berkualitas (quality oriented), akan mendorong majlis ta’lim, masjid atau surau menjadi lembaga center of exellence, yang menghasilkan umat yang mempunyai ilmu yang komprehensif, yakni pengetahuan agama plus keterampilan, dengan aqidah tauhid yang istiqamah. Peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan sumber-sumber belajar di dalam masyarakat menjadi bagian integral dari masyarakat Muslim secara keseluruhan.

Dengan pengembangan dakwah ini, surau dan masjid bisa menjadi core, atau inti, mata dan pusat dari learning society, masyarakat belajar. Sasarannya, agar lahir umat dakwah yang terdidik, berkualitas, capable, fungsional, integrated di tengah masyarakatnya.

Setiap Muslim harus ‘arif, dalam menangkap setiap pergeser­an yang terjadi karena perubahan zaman ini, juga menjanjikan peluang‑peluang yang ada, sehingga memiliki visi jauh ke depan dalam percaturan hidup dunia (Q.S. 28: 77).

Membangun SDM menjadi SDU

Kita berkewajiban membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi Sumber Daya Umat (SDU) yang berciri kebersamaan dengan nilai berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas.

Beberapa model perlu dikembangkan di kalangan para pendidik, seperti ; pemurnian wawasan fikir, kekuatan zikir, penajaman visi, perubahan melalui ishlah atau perbaikan, mengembangkan keteladanan uswah hasanah, sabar, benar, memupuk rasa kasih sayang, dan pendalaman spiritual religi.

Menguatkan solidaritas beralaspijak kepada iman dan adat istiadat luhur, “nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”. Intensif menjauhi kehidupan materialistis, “dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.

Khatimah

1. Menetapkan langkah kedepan ;

a. pembinaan human capital melalui keluasan ruang gerak mendapatkan pendidikan,

b. pembinaan generasi muda yang akan mewarisi pimpinan berkualiti, memiliki jati diri, padu dan lasak, integreted inovatif.

c. Mengasaskan agama dan akhlak mulia sebagai dasar pembinaan generasi muda.

d. Langkah drastik mencetak ilmuan Muslim yang benar-benar beriman taqwa.

e. Pembinaan minat dan wawasan generasi muda kedepan yang bersatu dengan akidah, budaya dan bahasa bangsa.

f. Secara sungguh-sungguh mewujudkan masyarakat madani yang berteras kepada prinsip keadilan (equity) sosial yang terang.

2. Mengokohkan pegangan umat dengan keyakinan dasar syara’ (Islam) sebagai suatu cara hidup yang komprehensif.

3. Menyebarkan budaya (adat) berlandasan wahyu di atas kemampuan akal.

4. Memperluas penyampaian fiqh (cara-cara dan aturan hidup) dalam tatanan adat bersendi syara’ (Islam) dalam aspek-aspek sosio politik, ekonomi, komunikasi, pendidikan dan lain-lain.

5. Meyakini Peran krusial Ajaran Islam ;

· Kemenangan hanya disisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS.8, Al-Anfal : 9-10).

· Allah akan menolong setiap orang yang membantunya. Hendaklah kepada Allah saja orang-orang Mukmin bertawakkal” (QS.3, Ali “Imran : 160).

· Kuatkan hati, karena Allah selalu beserta orang yang beriman. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS.9, at-Taubah : 40).

6. Generasi penerus harus taat hukum, dapat dilakukan dengan cara ;

a. memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga,

b. memperkokoh peran orang tua, ibu bapak ,

c. fungsionalisasi peranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif,

d. memperkaya warisan budaya, setia, cinta dan rasa tanggung jawab patah tumbuh hilang berganti

e. menanamkan aqidah shahih (tauhid), dan istiqamah pada agama yang dianut,

f. menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur.

g. menanamkan kesadaran, tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah

h. penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam

i. melazimkan musyawarah dengan disiplin dan teguh politik, kukuh ekonomi

j. bijak memilih prioritas pada yang hak sebagai nilai puncak budaya Islam yang benar. Sesuatu akan selalu indah selama benar.

7. Peran Du’at menumbuhkan inisiatif meningkatkan mutu kehidupan masyarakat.

a. Merakit pola kemitraan di antara berbagai unit lembaga komunitas masyarakat di nagari,

b. Memasyarakatkan pembangunan lingkungan sehat fisik, kuat iman, dan teratur ibadah.

c. Mengkaji sosial-ekonomi dan alur patut budaya masyarakat adat, dengan bimbingan syarak

d. Memanfaatkan kearifan lokal dalam perlindungan teknologi tradisional dan ramah lingkungan,

e. Meningkatkan kepatuhan dan kesadaran terhadap peraturan perundang-undangan, bagian dari tata nilai adat dan implementasi pengamalan agama.

Budaya adalah wahana kebangkitan bangsa. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya.

Demikianlah semoga Allah senantiasa meridhai.


[1] Disampaikan dalam Seminar Himpunan Da’I dan Muballigh Kota Bukittinggi, pada hari Ahad, 02 September 2007, bertempat di Auditorium Istana Bung Hatta, di Bukittinggi.

[2] Ketua Umum BAZ Sumbar, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumbar, Wakil Ketua Dewan Penasehat MUI Sumbar,

[3] Menurut bimbingan Rasulullah bahwa al haqqu bi-laa nizham yaghlibuhu al baathil bin-nizam bermakna bahwa yang hak sekalipun, tetapi tidak mengindahkan pengaturan (organisasi) senantiasa akan dikalahkan oleh yang bathil tetapi dijalankan terorganisir. Allah menghendaki, kelestarian Agama ini dengan kemampuan mudah, luwes, elastis, tidak beku dan tidak bersifat bersitegang.

[4] Mohammad Natsir, Tausiyah 24 tahun Dewan Dakwah, Media Dakwah, Jakarta 1992, Da’wah kita adalah Da’wah Ila-Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s