HATI HATILAH DENGAN LIMA MUSUH YANG SELALU MENGINTAI


RasuLuLLah SAW bersabda, “Setiap mukmin dihadapkan pada Lima ujian; mukmin yang menghasudnya, munafik yang membencinya, kafir yang memeranginya, nafsu yang menentangnya, dan syaithan yang seLaLu menyesatkannya.” (HR ad-DaiLami, Abu Bakr bin LaaL meriwayatkan hadis dari Anas bin MaLik RA, ditemui daLam Kitab MakaarimuL AkhLaaq).

10552609_874156222611724_4372208165569829766_n

ALquranuL Karim mengingatkan bahwa, ” setiap orang yang beriman (mukmin), senantiasa akan mendapat ujian dari ALLah SWT.” LihatLah seLanjutnya ; “ Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami teLah beriman”, sedang mereka tidak diuji Lagi? — dan Sesungguhnya Kami teLah menguji orang-orang yang sebeLum mereka, Maka Sesungguhnya ALLah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (daLam QS aL-Ankabut [29]: 2-3).

Diantara ujian itu dapat saja datang dari ;

  1. Dari orang mukmin yang mendengkinya. Lazim didengar dan diLihat, ketika seorang beroLeh kenikmatan, seLaLu saja ada orang Lain yang tidak menyukainya. KadangkaLa yang membenci itu juga mengaku mukmin. Ini terjadi karena ada penyakit dengki. Dengki meLahirkan sikap hasud atau hasad. IniLah penyakit hati yang paLing berbahaya menghapus iman. PadahaL “penyakit hasud” tumbuh karena “permusuhan”, bahkan juga karena “kebencian” dan “kesombongan”. Sikap sombong seLaLu khawatir orang Lebih hebat dari dirinya. Karena itu, jauhiLah hasad yang suka mengadu domba.
  1. Dari kaum munafik yang seLaLu membencinya. Sifat munafik Lebih berbahaya dari kufur. Munafik itu sering menampakkan wajah seakan-akan baik, padahaL daLam hatinya menyimpan permusuhan. IngatLah tentang peristiwa muncuLnya aL ifki terhadap ‘Aisyah, yakni berita bohong yang menjadi makar kaum munafik, peristiwa ini terjadi di Madinah terhadap keLuarga Nabi SAW. Firman Allah ; “ Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat Balasan dari dosa yang dikerjakannya. dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar “ (Lihat peringatan ALLah daLam QS an-Nur [24]: 11).[1].

MeLindungi diri dari kaum munafik adaLah dengan ;

  1. bersandar kepada ALLah,
  2. berusaha menyingkap tipu daya dan rencana busuk mereka.

IngatLah bahwa orang munafik pandai bersiLat Lidah. Mereka suka boLak-baLikkan kata-kata dan bohong. Maksudnya untuk mempertahankan tujuan-nya. Firman Allah ;  “ 1. apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. 2. mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai[1476], lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya Amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. 3. yang demikian itu adalah karena bahwa Sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.”[2] (Lihat selengkapnya firman ALLah daLam QS aL-Munafiqun [63]: 1-11).

  1. Kaum kafir adaLah pendukung kebatiLan, menjadi Teman Syaithan dan seLaLu berusaha menceLakakan orang IsLam. (Lihat juga QS aL-AnfaL [8]: 36). Orang kafir saLing toLong untuk memerangi umat IsLam. (Lihat QS adz-Dzariyat [51]: 53).

Menghadapi kejahatan kaum kafir ini harusLah dengan ;

  1. Meyakini “sunnatuL ibtiLa” atas mukmin suatu keniscayaan.
  2. Wajib membekaLi diri dengan tsiqah biLLah,
  3. Bersangka baik kepada ALLah (husnudzdzan biLLah).
  4. BertawakaL kepada-Nya dan sering berdoa kepadaNya.
  5. SeLaLuLah ikuti manhaj (cara) dari para uLama yang saLeh.

 

  1. Dari syaithan yang seLaLu berusaha menyesatkan. (Lihat QS Fathir [35]: 6).

Setiap mukmin wajib menutup semua pintu masuk syaithan.

  1. jauihi sikap pemarah,
  2. hindari keinginan syahwat syaithaniyah,
  3. jangan tergesa-gesa bertindak,
  4. hindari sifat kikir dan jauhi takabur.

 

  1. Dari nafsu yang seLaLu menentang kebaikan (QS Yusuf [12]: 53). Musuh paLing bahaya adaLah nafsu daLam diri sendiri.

Menjauhi perdayaan nafsu ini dengan ;

  1. Bersihkan hati dari semua akhLak terceLa.
  2. IsiLah qaLbu dengan kekuatan iman dan kasih sayang.
  3. Senantiasa berpegang teguh pada ajaran ILahi.

InsyaaLLah, semoga kita semua terhindar dari Lima musuh yang seLaLu mengintai ini. Amin.

WaLLahu a’Lam bis – shawaab …..

 Catatan Kaki :

[1] Berita bohong ini mengenai istri Rasulullah s.a.w. ‘Aisyah r.a. Ummul Mu’minin, sehabis perang dengan Bani Mushtaliq bulan Sya’ban 5 H. Perperangan ini diikuti oleh kaum munafik, dan turut pula ‘Aisyah dengan Nabi berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri beliau. dalam perjalanan mereka kembali dari peperangan, mereka berhenti pada suatu tempat. ‘Aisyah keluar dari sekedupnya untuk suatu keperluan, kemudian kembali. tiba-tiba Dia merasa kalungnya hilang, lalu Dia pergi lagi mencarinya. Sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa ‘Aisyah masih ada dalam sekedup. setelah ‘Aisyah mengetahui, sekedupnya sudah berangkat Dia duduk di tempatnya dan mengaharapkan sekedup itu akan kembali menjemputnya. Kebetulan, lewat ditempat itu seorang sahabat Nabi, Shafwan Ibnu Mu’aththal, diketemukannya seseorang sedang tidur sendirian dan Dia terkejut seraya mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, isteri Rasul!” ‘Aisyah terbangun. lalu Dia dipersilahkan oleh Shafwan mengendarai untanya. Syafwan berjalan menuntun unta sampai mereka tiba di Madinah. orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut Pendapat masing-masing. mulailah timbul desas-desus. kemudian kaum munafik membesar- besarkannya, Maka fitnahan atas ‘Aisyah r.a. itupun bertambah luas, sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum muslimin.

[2] Mereka bersumpah bahwa mereka beriman adalah untuk menjaga harta mereka supaya jangan dibunuh atau ditawan atau dirampas hartanya.

Bekal Utama Khalifah fil Ardhi


وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ اْلأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya manusia dijadikan penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan dunia., karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku Amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya). (Q.S. Huud: 61)

Sebagai khaLifah ALLah, manusia mempunyai tugas penting yang harus dipertanggung jawabkan di hadapan ALLah Ta’aLa. Tugas penting itu disebut dengan amanah. Di samping manusia mempunyai puLa tugas Lain yang juga dimintai pertanggung jawabannya keLak, yaitu amaLannya.

AL Qur’an dan As Sunnah menjeLaskan mengenai posisi manusia, « makhLuk yang diciptakan dengan sifat-sifat ketuhanan », yang bertanggung jawab atas segaLa tingkah Lakunya, dan satu-satunya makhLuk Tuhan yang keLak segaLa perbuatannya akan dimintai pertanggungjawabannya, maka amanah ALLah tersebut manusiaLah yang mengembannya.

Amanah menunut mufassir adaLah proses amaLiah menuju iman dan mentaati ALLah daLam menjaLankan tugas-tugas keagamaan. Amanah adaLah menggaLi dan menemukan hukum aLam, menguasainya, mengetahui segaLa isinya dan kemudian menggunakan dengan inisiatif moraL insani, untuk menciptakan tatanan dunia yang Lebih baik. IniLah tugas manusia sebagai khaLifah di muka bumi, mengemban amanah memakmurkannya di bawah naungan ILahi.

OLeh karena itu, agar manusia cakap dan mampu dengan baik daLam meLaksanakan amanah tersebut, ALLah teLah menganugerahkan empat perLengkapan utama bagi manusia, yaitu:

  1. Raga/jasmani.

Jasmani merupakan aLat untuk hidup yang merupakan rahmat ALLah untuk disyukuri dengan jaLan menggunakannya sesuai dengan fungsinya dan sesuai dengan kehendak pemberi jasmani.

Fungsi jasmani sebagai wadah bagi rohani untuk meLaksanakan janjinya dengan Tuhan yang diikrarkan ketika di daLam ruh, sehingga kehendak ALLah SWT dengan dianugerahkannya jasmani itu mestiLah dipeLihara dengan sebaik-baiknya.

AkaL adaLah pemberian ALLah yang paLing muLia dan istimewa kepada manusia. “DaLam diri manusia ada sesuatu yang tidak terniLai harganya, anugerah yang maha besar dari ALLah SWT, tidak diberikan pada makhLuk Lainnya, yaitu akaL. Seandainya manusia tidak diberikan akaLniscaya keadaan dan perbuatannyasama dengan hewan.

IsLam mengakui bahwa keberadaan akaL di samping sebagai sarana pengoLah iLmu pengetahuan, juga menjadi aLat tempat berpijaknya manusia meLaksanakan ajaran agamanya. Bahkan diakui puLa bahwa usaha akaL ini sebagai sumber hukum IsLam yang ketiga seteLah AL-Qur’an dan Sunnah. AkaL bisa difungsikan dan dimanfaatkan biLa teLah dikembangkan sedemikian rupa dengan iLmu.

Maka dari itu IsLam memuLiakan akaL memegang beberapa prinsip ; « BeLajar seumur hidup, menuntut iLmu di mana dan biLa saja, mencari iLmu dengan sungguh-sungguh, mendasarkan kepada iLmu untuk memperoLeh kebahagiaan di dunia dan di akhirat. »

Sehingga konsekuensi dari keiLmuan itu ALLah meninggikan derajat orang dan bangsa yang beriLmu. Dan ALLah memandang rendah kepada orang dan bangsa yang kurang beriLmu bahkan sama sekaLi tidak beriLmu,

Agama diturunkan ALLah SWT untuk memimpin sekaLigus pedoman manusia daLam meLaksanakan janjinya dengan Tuhan atas tugasnya seLama di dunia ini agar terpenuhi apa yang menjadi tugasnya itu. Sayyid Sabiq daLam AL AqaiduL IsLamiyah berkata “Gharizah keagamaan (reLigious instinc) adaLah satu-satunya haL fitrah yang membedakan antara makhLuk Tuhan yang disebut manusia dengan binatang.”

Jadi sejak di aLam ruh sampai diLahirkan, manusia diciptakan ALLah sebagai makhLuk yang mempunyai fitrah keagamaan (homo reLigious), namun tidak sedikit dari manusia yang mengingkarinya, waLaupun daLam hati nurani yang daLam ia tetap mengakuinya.

Manusia daLam meLaksanakan segaLa tugas yang diemban akan berhasiL, mendapat kebahagiaan dan keseLamatan biLa hidupnya terbimbing oLeh agama sebagai ajaran kebenaran yang diberikan ALLah SWT. Dengan demikian manusia yang sempurna adaLah yang mempunyai wawasan dan pengetahuan yang Luas dan punya pengaLaman keagamaan yang mantap daLam segaLa bidang kehidupannya.

Ajaran IsLam mengatur kehidupan manusia dan memberikan bimbingan daLam segaLa haL. Mahmud SyaLtut daLam bukunya IsLam Aqidah Wasy-syari’ah mengatakan, IsLam adaLah agama yang diciptakan ALLah untuk mengatur manusia daLam berhubungan dengan ALLah, dengan sesama musLim, dengan sesama manusia, dengan aLam dan dengan kehidupan itu sendiri.”

ALam yang mencakup bumi, Langit dan seisinya itu adaLah anugerah ALLah yang ditundukkan oLeh ALLah kepada manusia untuk dijadikan objek sasaran tugas sang KhaLifah. Sehingga secara bertahap dengan kerja jasmani dan kecerdasan akaL manusia, peradaban akan semakin meningkat dan modern, yang dengan itu kemudian semakin menyejahterakan umat manusia.

Agar peradaban dan teknoLogi membawa kepada kemasLahatan, kebaikan, kebahagiaan, keseLamatan bagi manusia, maka diberi bimbingan agama sebagai penyempurna rahmat ALLah bagi manusia. OLeh karenanya menjadi kewajiban kita untuk menjaga dan memeLihara 4 aLat perLengkapan itu. Jasmani mesti dijaga kesehatannya. AkaL mesti dikembangkan dengan iLmu pengetahuan. Agama wajib diLaksanakan daLam reaLitas kehidupan dan perintah ALLah dengan ALquran mesti diyakini sebagai pedoman hidup yang paripurna.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ اْلعَفْوَ وَ العَافِيَةَ فيِ دِيْنِنَا وَ دُنْيَاناَ وَ أَهْلِيْنَا وَ أَمْوَالِنَا، رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ وَ تبُ ْعَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ.

Penyakit Hati (Bagian Pertama : Al Futuur)


Gambar

عَلَيْكُمْ بمَِا تَطِيْقُوْنَ فَوَاللهِ لاَ يَمَلُّ اللهُ حتىَّ تَمَلُّوا وَ كَانَ أَحَبُ الدِّينَ مَا دَامَ صَاحِبُهُ عَلَيْهِ

“Lakukanlah amal itu sebatas kesanggupanmu. Sesungguhnya Allah tidak akan bosan sehingga kalian merasa bosan, dan sesungguhnya amal yang paling disukai Allah ialah amal yang dikerjakan terus menerus sekalipun sedikit.” (HR.Muttafaqun ‘Alaih)

Dalam kitab Lisanul Arab (Ibnu Manzuur 5/43) kata futuur  mengandung pengertian sikap berdiam diri setelah sebelumnya bergiat atau lemah setelah sebelumnya kuat.

Menurut istilah, futuur ialah suatu penyakit hati yang efek minimalnya tumbuhnya rasa malas, lamban dan sikap santai dalam melakukan suatu amaliyah yang sebelumnya pernah dilakukan dengan penuh semangat, dan efek maksimalnya adalah pelaksanaan amaliyah itu tidak pernah dilakukan lagi.

Faktor-faktor penyebab futuur

Pertama: Al Ghuluwwu Tasyaddud wat tanaththu’ fid dien. (Ekstrim, melampaui batas dan berlebihan dalam menjalankan aturan agama).

Terlalu berlebihan atau memaksakan diri dalam melakukan amaliyah ibadah tanpa mempertimbangkan kondisi diri baik fisik, kesehatan maupun psikis, dan hal itu merupakan pemicu lahirnya sifat futuur

Rasulullah SAW bersabda: “Jauhilah sikap ghuluw (belebih-lebihan) dalam beragama, karena sesungguhnya orang sebelum kamu telah binasa akibat sikap itu.” (HR. Ahmad)

Kedua: As Syaraf wa Mujawazatul Hadfie Ta athil Mabahits. (Melampaui batas kewajaran dalam melakukan hal-hal yang mubah atau dibolehkan).

Contoh dalam hal makan minum, dalam kitab Ihyaa’ ‘Ulumuddin Abu Sulaiman berkata: “Barangsiapa yang kenyang maka ia akan mudah ditimpa enam penyakit, yakni : hilangnya rasa nikmat, tidak mampu memetik hikmah, lenyap rasa kasih saying – karena ia mengira bahwa semua makhluk kenyang sepertinya, malas dalam beribadah, dan menguatnya dorongan nafsu syahwat.”

Ketiga : mufarraqatul Jama’ah wa letsarul hayatul ‘uzlah wat tafarruq. (Memisahkan diri dari berjamaah dan lebih mengutamakan hidup ‘uzlah atau menyendiri)

Rasulullah SAW bersabda: “Berjamaah kalian, karena sesungguhnya syetan menyertai orang yang sendiri, dan dia akan menjauhi orang yang berdua. Barangsiapa yang ingin masuk ke taman surga hendaklah ia komitmen dengan jamaah.” (H.R. Tirmidzi)

Keempat : Dukhuulu jaufihi syai’un muharraman au bihi syubhat. (Tubuhnya termasuki sesuatu yang haram atau bernilai syubhat).

Rasulullah bersabda : “ Tubuh yang tumbuh dari sesuatu yang haram, maka ia lebih banyak tempatnya di neraka. ” (H.R At Tirmidzi)

Kelima: Qillatu tazakkuril maut ead darul akhirah. (Kurang mengingat masalah kematian dan kehidupan akhirat)

Rasulullah SAW bersabda: “Dulu aku melarang kalian berziarah kubur, namun sekarang berziarahlah, karena hal itu akan menjadikan sikap zuhud di dunia dan akan mengingatkan pada akhirat. ”(H.R. Ahmad)

Keenam: Al wuquu’ fil ma’ashi was saiy-aat lasiamma shaghairus zunub maal istihanah biha. (Berlarut-larut dalam melakukan maksiat dan meremehkan dosa-dosa kecil)

Rasulullah SAW bersabda: “Jika seorang mukmin melakukan dosa, berarti ia telah memberi setitik noda hitam pada hatinya. Jika ia bertaubat, tidak meneruskannya, dan memohon ampunan, maka hatinya kembali berkilau. Akan tetapi jika ia berulang-ulang melakukan hal itu, maka akan bertambah pula noda hitam yang menutupi hatinya, dan itulah ‘Ar Raan’ sebagaimana yang difirmankan ‘Azza wa Jalla, ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (H.R. Ahmad dan Ashhaabus Sunan)

Banyak hal lagi yang dapat menjadi faktor penyebab penyakit futuur ini, diantaranya: Menyepelekan kewajiban harian, seperti memperlambat dalam mendirikan shalat wajib, lalai melaksanakan shalat rawatib, meninggalkan tilawah al Qur’an, dan sebagainya. Kemudian mencukupkan diri dalam mengerjakan salah satu bagian saja dari syari’at agama, mengabaikan kebutuhan jasmani dalam beribadah, berteman dengan orang yang memiliki penyakit futuur.

Untuk itu kita harus mengetahui kiat dan cara mengatasi penyakit futuur. Adapun diantara kiat dan caranya adalah sebagai berikut :

Pertama: Menjauhi perbuatan dosa dan kemaksiatan, baik yang kecil apalagi yang besar.

 

Kedua: Tekun dalam melaksanakan ‘amal yaumiyah (amal harian), seperti dengan memperbanyak zikir, melaksanakan shalat nawafi, membaca Al Qur’an.

 

Ketiga: Senantiasa menghadiri majelis-majelis ilmu, pengajian, bergaul dengan orang lain dan tidak menyendiri, serta bergaul dengan orang-orang yang shaleh dan ahli ibadah.

 

Keempat: Melakukan kajian secara kontinu terhadap kitab-kitab atau buku-buku yang membahas perjalanan sejarah para shahabat atau orang-orang shaleh lainnya.

 

Kelima: Mengingat kematian dan kejadian-kejadian yang bakal terjadi selanjutnya.

 

Keenam: Mengingat kenikmatan surga dan azab  neraka.

 

Ketujuh: Menjalankan ajaran agama secara total dan tidak setengah hati.

 

Kedelapan: Senantiasa mengoreksi dan menghitung diri.

 

Kesembilan: Senantiasa menerapkan sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupan.

 

Kesepuluh: Mengatur waktu dengan cermat. Kesebelas: Menghindarkan diri dari sikap berlebihan dalam menjalankan ajaran agama.

Dusta akan Menjauhkan Keimanan


TUNTUTAN FITRAH MANUSIA ADALAH  ” J U J U R ”

Setiap fitrah pasti membenci kedustaan dan perbuatan zhalim.
Jika dusta dan kezaliman mewabah, maka yang terjadi adalah musibah, di dunia dan di akhirat.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dalam hadits yang dibawakan oleh Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu , bersabda :

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ(وفى رواية لمسلم: إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ) حَتَّى يَكُوْنَ صِدِّيْقًا. وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُوْرِ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ(وفى رواية لمسلم: وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ) حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّاباً. رواه البخاري ومسلم

” Sesungguhnya kejujuran akan membimbing menuju kebaikan, dan kebaikan akan membimbing menuju surga.
Sesungguhnya seseorang akan bersungguh-sungguh berusaha untuk jujur, sampai akhirnya ia menjadi orang yang benar-benar jujur.
Sesungguhnya kedustaan akan membimbing menuju kejahatan, dan kejahatan akan membimbing menuju neraka.
Sesungguhnya seseorang akan bersungguh-sungguh berusaha untuk dusta, sampai akhirnya ia benar-benar tertetapkan di sisi Allâh sebagai pendusta.”
[HR. Bukhari dan Muslim. Lafal di atas adalah lafal Bukhari] (ihat Shahih al-Bukhari, Fathul Bari X/507, no. 6094, dan Shahîh Muslim Syarh an-Nawawi)

Kejujuran hendaknya tidak menjadi barang langka.

Itulah dambaan setiap muslim yang fitrahnya lurus.
Jika kejujuran mewarnai kehidupan setiap muslim, niscaya kebaikan akan menerangi dunia. Kaum Muslimin, pelaku kejujuran adalah calon-calon penghuni surga, tempat kebahagiaan abadi yang jauh lebih baik dari dunia.

“Jujur adalah predikat bangsa besar. Berangkat dari sifat jujur inilah terbangun semua kedudukan agung dan jalan lurus bagi para pelakunya. Barangsiapa yang tidak menempuh jalan ini, niscaya ia akan gagal dan binasa. Dengan sifat jujur inilah, akan terbedakan antara orang-orang munafik dengan orang-orang beriman dan akan terbedakan antara penghuni surga dengan penghuni neraka.”
(Madarij as-Salikin, Dar Ihya’ at-Turats al-Arabi – Mu’assasah at-Tarikh al-Arabi, Beirut, II/204 tentang Manzilatu ash-Shidqi,)

Bangsa besar manapun di dunia dan kapanpun, pasti mengutamakan kejujuran.

Kaum Muslimin mestinya lebih layak menyandangnya. Allah Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.”
[QS at-Taubah/9:119]

Dalam riwayat lain pada Shahih Muslim, hadits diawali dengan :

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ
…وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ

Wajib bagi kalian untuk jujur……
dan hati-hatilah, jangan sekali-kali kalian dusta…
( Shahîh Muslim Syarh an-Nawawi. Op.Cit. hal. 376, no. 6582)

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan tentang tambahan-tambahan riwayat tersebut dengan menukil perkataan para ulama, bahwa di dalamnya terdapat penekanan supaya seseorang bersungguh-sungguh untuk bersikap jujur. Maksudnya, berniat sungguh-sungguh dan benar-benar memperhatikan kejujuran.

Sebaliknya harus berhati-hati jangan sampai dusta dan jangan sampai mudah berdusta. Sebab apabila seseorang mudah berdusta, maka ia akan banyak berdusta dan akhirnya dikenal sebagai orang yang suka berdusta.

Jika seseorang terbiasa bersikap jujur, maka Allah Azza wa Jalla akan menetapkannya sebagai orang yang benar-benar jujur.

Sedangkan apabila seseorang terbiasa dusta, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menetapkannya menjadi orang yang dikenal pendusta.
( Demikian sebuah nasehat dan penjelasan dari Imam Nawawi)

Dusta adalah perbuatan terlarang dan haram, bahkan bisa menjauhkan keimanan.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani  membawakan riwayat al-Baihaqi yang menurut beliau sanadnya shahih, dari Abu Bakar ash-Shiddîq Radhiyallahu anhu , beliau (Abu Bakar) berkata :

اَلْكَذِبُ يُجَانِبُ اْلإِيْمَانَ

Dusta akan menjauhkan keimanan.
(Lihat Fathul Bari X/508)

Menjadi Pemimpin itu amat berat … Namun, akan menjadi ringan dengan panduan agama


Perlu dingatkan bahwa pemilihan pemimpin merupakan satu ikatan kontrak yang disepakati dengan rakyat  melalui proses penyerahan kuasa atau pemilihan umum. Ijmak ulama menetapkan bahwa melantik pemerintah yang mampu melaksanakan tanggungjawab pemerintah dikalangan umat Islam hukumnya adalah wajib.

Kepimpinan bukan sekadar perjanjian antara pemimpin dengan masyarakat, tetapi juga merupakan ikatan perjanjian antara pemimpin dengan Allah SWT.

Pemerintahan adalah satu amanah dan disyariatkan bagi melanjutkan tugas kenabian dalam memelihara agama dan mentadbir urusan dunia umat Islam.

Rasulullah SAW juga telah berpesan kepada umatnya bahwa perlu ada dikalangan umatku yang menjadi pemimpin di dalam sebuah organisasi ataupun masyarakat demi melaksanakan amar makruf dan mencegah kemungkaran. Kepimpinan itu semestinya didukung oleh keimanan kepada Allah SWT, cinta dan menghayati sunnah Rasulullah SAW serta berakhlak mulia di mana ianya mampu mengadakan hubungan yang baik dan harmoni dengan semua peringkat masyarakat. Kita dapat belajar kepimpinan kepada Khalifah Umar al- Khattab RA yang boleh dijadikan contoh karena beliau adalah seorang pemimpin yang sangat disayangi oleh rakyatnya atas perhatian dan tanggungjawabnya yang luar biasa terhadap rakyat.

GambarSesungguhnya umat Islam amat beruntung karena mempunyai seorang tokoh yang boleh dijadikan panduan dalam merealisasikan asas kepimpinan ini yakni Rasulullah SAW. Baginda adalah contoh yang dikagumi bukan saja oleh umat Islam malah disanjungi oleh musuh-musuh Islam karena mempunyai kebolehan dalam memimpin dan bertanggungjawab penuh ke atas perlaksanaannya.

Sesungguhnya pemimpin yang kehendaki ialah mereka yang tinggi budi pekerti dan akhlak yang merangkumi ciri takwa dan warak, mereka ini seorang yang sentiasa bercakap benar, amanah, bersih diri dari perkara haram dan meragukan, sentiasa tenang dalam keadaan biasa dan marah, kualitas maruahnya tampak dalam semua urusan agama dan dunia. Menyeru seluruh umat Islam sekalian bersama-sama melaksanakan tanggungjawab kita demi agama, bangsa dan negara dengan memilih pemimpin yang benar-benar beretika, bertindak selaras dengan apa yang dikata atau yang dijanjikan, bertanggungjawab menjaga kebajikan dan kesejahteraan rakyat yang dipimpin di dunia dan di akhirat. Mengkhianati amanah kepimpinan adalah satu dosa besar yang akan menerima hukuman Allah di akhirat nanti.

 

Diriwayatkan dari Imam  Ahmad dan Athabbarani, dari Abi Mas’ud Radhiallahu ‘anhu, ia berkata, aku bertanya kepada Rasulullah. “wahai Rasulullah”Kedzaliman apakah yang lebih dzalim dari kedzaliman itu sendiri? , Rasulullahpun menjawab : ”Sedepak (segenggam) tanah/ harta yang dikurangi seseorang dari haknya seorang muslim, ataupun diambilnya tanah tersebut, kecuali kelak di hari kiamat dia akan mengelilingi tanah/harta tersebut sampai kedasar tanah yang paling dalam, dan sampai dimana dasar/bawah tanah tersebut batasnya, tak ada seorangpun yang mampu mengetahuinya kecuali Allah Ta’ala.

Dia akan menggali/mengelilingi, dan menggantikan sejengkal tanah tadi sampai kedasarnya sekali. Sampai dimana dasar tersebut berakhirnya tak ada seorangpun yang tahu, kecuali Allah Ta’ala.

Begitu besar dosa, dan ganjaran seseorang yang mengambil harta/tanah milik orang lain, ataupun menguranginya. Mengurangi apalagi sampai mengambil harta seseorang, sangatlah besar dosanya disisi Allah Ta’ala. Karena betapa Allah Ta’ala sangat menghargai jerih payah harta seseorang yang dicarinya dari hasil kerja tangannya sendiri, sementara ada yang mengambil seenaknya saja.

Di dunia ini, karena harta orang mampu melakukan segalanya, apa sajapun itu. Manusia banyak hancur terjerumus, bahkan menjerumuskan orang lain, karena harta, karena factor ekonomi, factor uang, harta dan kedudukan, jabatan. Mungkin, karena itu pula, betapa banyak ayat-ayat Allah Ta’ala, maupun hadits2 Rasulullah yang mengingatkan kita dalam masalah ini.

Lihatlah, betapa Allah Ta’ala menggantungkan amalan seseorang masih dalam kuburnya, belum lagi di padang mahsyar kelak, seseorang yang meninggal dunia, dan dia masih meninggalkan hutang yang belum sempat dibayarkannya.

Dari Anas ra berkata: Suatu ketika Rasulullah didatangkan dengan jenazah seseorang, untuk dishalatkan. Kemudian Rasulullah bertanya? :”Apakah dia punya hutang?” Mereka menjawab:”Iya“. Rasulullah bersabda: “ Sesungguhnya Jibril melarang aku menshalatkan orang yang masih punya hutang, karena sesungguhnya orang yang masih punya hutang, nasibnya akan terkatung2 sampai hutangnya dilunasi … ”

Ketahuilah bahwa memperlambat hutang menghilangkan keberkahan hidup. Betapa banyak diantara kita yang hakikatnya sudah mampu membayar hutang-hutang kita. Namun kita sengaja memperlambatnya dengan berbagai alasan yang tidak begitu penting.

Ada-ada saja keperluan kita yang kita sampaikan pada yang memberikan hutang, untuk menunda hal tersebut. Tindakan tersebut bukanlah untuk memenuhi sebuah keperluan yang utama. Tetapi hanya semata ubtuk keperluan yang sekunder, bahkan keperluan kemewahan yang menampakkan hidup kelihatan lebih wah. Padahal semua itu, kita masih menggantungkan hutang kita pada orang lain.

Keberkahan hidup kita sendiri akan punah pada akhirnya. Itu disebabkan, karena kesengajaan kita, bukan karena kondisi kita. Seharusnya kita mampu hidup sesuai dengan kondisi financial kita. Namun demi sebuah gaya hidup, gengsi, kita usahakan kelihatan mewah dikhalayak ramai. Menyedihkan sekali. Semoga hal ini, tidak terjadi untuk diri kita, anak cucu dan keturunan kita.

Hakikatnya hal inilah yang menjadi darah daging dari sikap bangsa kita.

Terbiasa mau kelihatan mewah, hakikatnya kita masih banyak hutang yang dapat menggantungkan amalan kita diakhirat kelak. Bahkan masih dalam kuburpun, kita dibuat terkatung-katung olehnya.

Kalau kondisi benar-benar sulit dan tak berdaya, agamapun memberikan solusi yang tepat dan baik. Kita saja yang terkadang tak mau mematuhi hukum agama.

Hal tersebut terjadi karena tabiat lebih condong pada kehidupan dunia dan senang hanya dapat pujian dari orang lain, ketimbang mencari ridha Allah Ta’ala.

 Makan harta dari harta yang haram, salah satu penyebab dari tidak dikabulkannya do’a seseorang. Diriwayatkan dari Imam Attabbarani, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata : Tatkala dibacakan ayat,  “Wahai sekalian manusia, makanlah dari apa-apa yang ada dimuka bumi ini dengan cara yang baik dan halal” … Maka berdirilah Sa’ad bin Abi waqas. “Wahai Rasulullah, berdo’alah kepada Allah Ta’ala, agar do’a-do’a ku dikabulkanNya” …., Kemudian Rasulullah menjawab : ”Wahai Sa’ad, perbaikilah makananmu, niscaya do’a kamu terkabul, sungguh dimana jiwaku yang berada ditanganNya, apabila seseorang memakan sesuap makanan kedalam mulutnya dengan sesuatu dari harta yang didapatkannya dengan cara yang haram, sungguh, Allah tidak akan menerima amalannya selama 40 hari  ( itu baru sesuap, bagaimana kalau 10 suap, apalagi 10 piring?), dan barang siapa yang darah dagingnya tumbuh dari daging didapatnya dari cara yang haram, maka neraka lebih berhak untuknya.”.

 Cobalah kita bayangkan, kalau  saja tanah/harta seseorang yang sejengkal, dan sangat sedikit itu, kita kurangi/ kita ambil saja, hukuman yang akan kita terima, dihari kiamat kelak (hati-hati bagi para pejabat/atasan/tuan rumah yang terkadang kita sering mengurangi hak bawahan, pembantu, faqir miskin, hak ortu kita), kita harus mengelilingi/ menggali tanah tersebut sampai kedasar tanah yang penghabisan. Dimana letak batas penghabisan lapisan tanah itu ???? Tidak ada yang dapat mengetahuinya kecuali Allah Ta’ala.

Harus berapa puluhan tahun kita melunasi untuk membayarkan harta yang kita ambil tersebut? Amat mengerikan peringatan Rasulullah ini …. Maka hindarilah mengambil hak orang lain …

 Betapa Allah ta’ala sangat menghargai harta benda milik manusia itu sendiri, padahal harta itu jelas-jelas adalah milik Allah hakikatnya. Tetapi kita dilarang mengurangi hak dari harta benda seseorang apalagi mengambilnya dengan cara yang haram, bukan cara yang halal.

 Agama Islam mengatur kehidupan manusia dari segala lini kehidupan. Mulai dari bangun tidur, sampai tidur kembali, semua ada aturannya. Tinggal manusianya saja lagi yang harus memilih, pilih dunia beserta keindahannya, atau pilih akhirat dengan segala keindahannya pula. Dan setiap pilihan hidup pasti memiliki resiko dan konsekwensi. Dan Allah Ta’ala sudah banyak memberikan kita peringatan bahwa,  “Wal akhiratu, khairu llaka minal uula, dan akhirat itu jauh lebih baik bagimu, ketimbang dunia”. “Dan tidaklah kehidupan di dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau belaka”.

GambarBerapa tahun yang silam kita dilahirkan dengan tangisan kita tatkala bayi, menjelang berapa saat kita dapat jalan, sekolah, kawin, punya anak, dan tua, akhirnya keliang lahat kembalinya. Allah Ta’ala berfirman, dengan mengingatkan kita aka nasal kita darimana, “Dari tanah kami menciptakan kamu, didalam hamparan tanah itu juga kamu hidup, dan pada akhirnya kamu kembali kedalam tanah juga”. Apabila kamu mengurangi harta/hak seseorang. Apalagi kamu mengambilnya dengan cara yang tidak halal. Kelak kamu akan menggali/mengelilingi tanah tersebut sampai ke dasarnya. Dan apabila kamu meninggal masih memiliki hutang. Kelak di dalam tanah yang kamu dikubur didalamnya. Nasib kamu juga terkatung-katung. Dari tanah saja, kita dapat mengambil pelajaran yang sangat banyak dan mendalam. Apatah lagi dari harta yang lainnya.

 Dari paparan ayat-ayat serta hadits-hadits diatas, dapat kita ambil kesimpulan:

  1. Hati-hati terhadap harta orang lain
  2. Hati-hati terhadap hutang kita
  3. Hati-hati terhadap harta kita sendiri
  4. Hati-hati terhadap bawahan/pembantu kita. Jangan sampai haknya kita kurangi, dan jangan sampai membebani pekerjaan seseorang diluar batas kemampuannya, apalagi sampai kita tak membayar haknya sesuai dengan tenaganya.

Marilah kita bersama tumbuhkan saling pengertian. Memupuk kegemaran saling membantu. Menanamkan saling menghormati. Suka memaafkan. Menjaga kesatuan dan persatuan. Saling pengertian mudah tumbuh bila dikokohkan oleh satu perasaan. Mengharap redha Allah. Kerukunan akan dijalin karena cinta kepada bangsa dan tanah air yang telah kita dirikan dengan darah dan air mata ini. Sebagai penutup mari kita berdoa bersama-sama. 

 

“Ya Allah Tuhan Kami, jadikanlah negeri kami negeri yang aman damai, melimpah kesuburan tanahnya, tenteram penduduk buminya. Demikian jugalah hendaknya negeri negeri Islam yang lainnya.”

Ya Allah, ampunilah kiranya dosa dan kelalaian kami dalam perbuatan kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami dalam menghadapi orang yang tidak percaya.

 

Tegakkan Iman Menghadapi Tantangan Zaman


Tegakkan Iman Menghadapi Tantangan Zaman

Saudaraku Kaum Muslimin yang Berbahagia,

Telah menjadi keyakinan hidup kita sesungguhnya bahwa kekuatan Iman, dan menegakkan peribadi yang mulia amat diperlukan dalam mengadapi perubahan yang tengah berlaku. Perubahan itu benar benar menguji siapa yang kuat imannya dan siapa pula yang lemah imannya. Sungguh hakikinya hidup didunia adalah “perjuangan menegakkan iman”. Perjuangan iman itu wajib dilakukan karena ada lawan yang selalu ngin mencampakkan iman itu di dada seorang hamba.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ
Artinya ; “Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia.”  (HR At-Tirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Haakim). Taqwa kepada Allah maknanya adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, sebagai bukti perjuangan menegakkan iman itu.

    Kini kita hidup dan berdiam di sebuah kota, yang dihuni oleh masyarakat beradat dan kebanyakannya muslim. Karena perubahan zaman dan pergantian musim mulai pula dimasyhurkan perilaku maksiyat. Perjuangan menegakkan iman menjadi amat penting menghadapi gelombang kemaksiatan yang semakin meningkat.Dimana mana mulai tumbuh tempat tempat makshiyat yang sesungguhnya dan kota kitapun berkembang menjadi padang makshiyat. Dan makin parah ketika ibadah dan shalat mulai pula dilalaikan.

   

Ibnu Mardawih RA telah mengeluarkan daripada Ibnu Abbas R.A katanya: Rasullullah SAW telah mengerjakan Haji Perpisahan. Baginda membuat halaqah dihadapan pintu Kaabah, Baginda bersabda: “Wahai Manusia! Mahukah kamu beritahu alamat Qiamat?”, Maka bangunlah Salman R.A sambil berkata: Sila beritahu kami, ayah dan emak saya menebus (membela) diri Tuan. Baginda bersabda : Setengah daripada alamat Qiamat itu adalah:

Mencuaikan (melalaikan) Sembahyang.
Dan menurut hawa nafsu (melakukan maksiat).
Dan memuliakan orang berduit (hartawan).

فَقَلَ سَلْمَانُ: وَيَكُوْنُ هَـٰذَا يَا رَسُوْل اللهِ؟

قَالَ: نَعَمْ وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، فَعِنْدَ ذٰلِكَ يَا سَلْمَانُ

Salman R.A bertanya : Apakah berlaku perkara ini? Baginda menjawab : Ya demi Allah SWT yang mana diriku ditanganNya

تَكُوْنُ اَلزَّكَاةُ مَغْرَمًا وَالْفَىءُ مَغْنَمًا،

 وَيُصَدَّقُ الْكَاذَّبُ،  وَيُكاذ ِبُ الصَّادِ قُ،

 وَيُؤْتَمَنُ الْخَائِنُ،  وَيَخُونُ الأَمِيْنُ،

 وَيَتَكَلَّمُ الرُّوبَيْضَةُ،

Ketika itu wahai Salman R.A:

Dan Zakat menjadi bebanan hutang, dan Hasil kekayaan yang diambil menurut cara orang kafir menjadi rebutan.
Dan yang dipercayai kata-kata pembohong.

Dan didustakan (ditolak) kata-kata orang benar.

Dan memberikan amanah kepada orang yang khianat.

Dan dikhianatkan orang yang amanah.

Dan bercakap dikhalayak ramai oleh orang yang tidak sepatutnya bercakap    (ar -Rubaiydhah).

  قَالَ: وَمَا الرُّوَبَيْضَةُ؟

 قَالَ: يَتَكَلََّمُ فِيْ النَّاسِ مَنْ لَّمْ يَتَكَلَّمُ،

 وَيُنْكِرُ الْحَقِّ تِسْعَةَ أَعْشَارِهِمْ،

 وَيَذْهَبُ الإِسْلاَمُ فَلاَ بَيْقىٰ إِلاَّ اسْمُةُ،

 وَيَذْهَبُ الْقُرْآنُ فَلاَ بَيْقىٰ إِلاَّ رَسْمُهُ،

 فَعِنْدَ ذٰلِكَ تُزَخْرَفُ الْمَسَاجِدُ كَمَا تُزَخْرَفُ الْكَنَائِسْ وَالْبَيْعُ،  وَتَطُوْلُ الْمَنآئِرُ،  

 وَتَكْثُرُ الصُّفُوْفُ، مَعَ قُلُوْبٍ مُتَبَاغِضَةٍ،

 وأََلْسُنٍ مُخْتَلِفَةٍ،  وَأَهْوَآءٍ جَمَّةٍ.

Dan bercakap dikhalayak ramai oleh orang yang tidak sepatutnya bercakap.
Dan ditolak akan kebenaran Al-Quran dan Sunnah oleh 9 dari 10 mereka.
Dan lenyaplah Islam, hanya tinggal namanya sahaja.
Dan Al-Quran diabaikan kehendak dan tuntutannya, Hanya tinggal tulisannya sahaja.
Dan ketika itu dihiaskan masjid sepertimana dihiaskan gereja Kristian dan Kuil Yahudi.
Dan ditinggikan binaan menara masjid.
Dan akan ramai orang yang mengunjungi masjid tetapi hati mereka saling benci membenci.
Dan mereka bertengkar (bertikam lidah diluar sunnah).
Dan mereka berkumpul untuk hawa’ nafsu.

قَالَ سَلْمَانُ: وَيَكُوْنُ ذٰلِكَ يَارَسُوْلَ الله؟

قَالَ:نَعَمْ وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، عِنْدَ ذٰلِكَ يَا سَلْمََانُ

Salman R.A lagi: Apakah perkara ini akan berlaku demikian itu, wahai Rasulullah SAW?

Baginda menjawab: Ya demi Allah SAW yang mana diriku ditanganNya:

يَكُوْنُ الْمُؤْمِنُ فِيْهِمْ أَذَلَّ مِنَ الأَمِة

يَذُوْبُ قَلْبُهُ فِيْ جَوْفِهِ كَمَا يَذُوْبُ الْمِلحُ فِيْ الْمَاءِ مِمَّا يَرٰى مِنَ الْمَنْكَرِفَلاَ يَسْتَطِيْعَ اَنْ يُغَيِّرَهُ،

Ketika itu keadaan orang mukmin lebih hina daripada hamba sahaya perempuan.

Hancur hatinya bagai hancurnya garam dalam air kerana terlalu sedih melihat amalan mungkar yang berlaku yang tidak berdaya disekat dan diubahmya.

 

    Memang pembangunan masjid semakin bertambah. Hanya saja pembangunan masjid belum diiringi ramai jamaahnya yang menjadi bagian terpenting menegakkan iman untuk membendung kemaksiatan dan keonaran.

Tepat sekali perkataan Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi wa sallam

 “ Berbahagialah orang yang dapat mengoreksi dirinya sendiri, sebelum dia mengoreksi orang lain.”

    Mukmin yang baik selalu mengajari diri dengan akhlaq yang baik dan ibadah teratur. Inilah kekuatan menghadapi maksiat. Tanpa itu mustahil kita akan kuat dan berdaya. Dalam menempuh jalan kehidupan selalu ada bisikan kearah baik, dan ada pula godaan lebih kuat kepada yang buruk.

Disini pentingnya bimbingan wahyu Allah;

“  Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (QS.5,Al-Maidah:105).

Melatih diri menjadi orang Mukmin memang payah. Keunggulan ada pada kuat dan teguhnya iman jua. Alquran tidak bangga karena banyak bilangan. Namun lupa kualitas diri.

Rasulullah bersabda ;

 “Menyeru kepadamu musuh laksana serbuan semut lelatu memakan kayu mumuk. Lalu orang bertanya ; “Apakah karena kita sedikit pada waktu itu, Ya Rasulullah? Beliau menjawab; “Bahkan kamu pada waktu itu banyak sekali, tetapi laksana buihnya air bah waktu banjir saja. Telah dicabut oleh Allah Ta’ala dari hati musuh-musuh kamu “rasa segan” kepada kamu dan kamu kian lama kian lemah. Lalu mereka bertanya lagi; “Apakah penyebab kami jadi lemah, Ya Rasulullah?” Beliau menjawab; “Karena cintamu telah lekat kepada dunia dan kamupun menjadi takut akan mati”. (HR.Imam Ahmad).

Demikianlah keadaan kita kini. Bilangan banyak. Nilai tidak ada. Menjadi budak hawa nafsu syahwat. Berlomba mengejar kekayaan, walaupun tidak halal. Mulut untuk mengatakan yang benar telah disumbat. Kita kehilangan agama dan kehilangan budi.

 “Dan apabila Kami telah bermaksud hendak merusakkan suatu negeri, maka Kami beri kuasalah orang orang yang ingin hidup mewah, lalu mereka membuat fasiq dan durhaka padanya. Lantaran itu pastilah berlaku pada mereka kehendak Tuhan, lalu Kami hancurkanlah mereka sehancur-hancurnya.” (QS.Al Isra’:16).

Dalam kalangan kaum muslimin memang masih ada orang yang ikhlas menegakkan Agama karena Allah. Tetapi, karena lingkungan sekeliling telah hancur, masyarakat tidak peduli hakikat ajaran agama. Maka orang orang yang ikhlas itu tersisih ketepi. Agama mulai dianggap ketingalan zaman. Agama hanya jadi buah bibir, bukan buah hati. Padahal Islam adalah agama yang mewajibkan kita beramar ma’ruf bernahyi munkar. Mewajibkan kita menyeru dan mengajak berbuat yang baik. Melarang dari berbuat jahat. Tidaklah takut dan cemas kepada makhluk dalam menyatakan sesuatu yang diyakini benar. Tempat takut satusatunya hanya semata mata Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena akan tiba masanya kiamat menjelang.

Dan (sebaliknya) orang-orang yang mau menerima petunjuk (kejalan yang benar), Allah menambahi mereka dengan hidayah petunjuk serta  memberikan balasan (dorongan untuk mereka) bertaqwa.
(Kiranya golongan yang ingkar masih tidak mahu menerima peringatan yang diberi kepadanya) maka tidak ada lagi yang mereka tunggu melainkan saat kiamat yang akan datang kepada mereka secara mengejut, kerana sesungguhnya telah lahirlah tanda-tanda kedatangannya. Kalaulah demikian, maka bagaimanakah mereka dapat menerima peringatan yang diberi kepada mereka – apabila saat kiamat itu datang kepada mereka?
Maka tetapkanlah pengetahuanmu dan keyakinanmu (wahai Muhammad) ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (tiada Tuhan yang berhak disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan kepada-Nya bagi salah silap yang engkau lakukan dan bagi (dosa) orang-orang yang beriman (mukmin) — laki-laki dan perempuan; dan (ingatlah) Allah mengetahui akan keadaan gerak-gerik kamu (di dunia) dan (tempat tinggal) keadaan penetapan kamu (di akhirat). (QS.Muhammad ayat 17-19).

Kepercayaan kepada satu Tuhan menempatkan takut hanyalah kepada Dia, yang memberi makan dan minum. Yang memberi kehidupan dan tempat kembali hanyalah Dia. Sehingga terasalah tanggung jawab besar dalam menegakkan kebenaran dan menolak segala perbuatan munkar.

Barangsiapa diantara kamu ada melihat sesuatu perbuatan yang munkar, hendaklah tegur dengan tangannya. Jika tidak sanggup menegur dengan tangan, hendaklah tegur dengan lidahnya dan jika tidak sanggup pula menegur dengan lidah, hendaklah dengan hati. Tetapi dengan hati itu adalah yang selemah lemah iman.”.

Inilah yang terjadi. Maka tiada lain upaya yang tersisa adalah kembali “menegakkan Iman” dari diri dan keluarga serta lingkungan kecil dan besar agar kemulian Muslim tidak hilang dari negeri ini.

 Ya Tuhanku aku ini lemah, maka kuatkanlah; saya ini rendah maka muliakanlah; saya ini miskin, maka kayakanlah saya.”   

“ Wahai umat manusia, bertaqwalah kepada Tuhan kamu! Sesungguhnya gempa hari kiamat itu suatu perkara Yang amat besar. Pada hari kamu melihat (peristiwa-peristiwa Yang mengerikan) itu, tiap-tiap ibu penyusu akan melupakan anak Yang disusukannya, dan tiap-tiap perempuan Yang mengandung akan gugurkan anak Yang dikandungnya; dan Engkau akan melihat manusia mabuk, padahal mereka sebenarnya tidak mabuk, tetapi azab Allah amatlah berat, mengerikan. Dan ada di antara manusia Yang membantah perkara-perkara Yang berhubung Dengan Allah Dengan tidak berdasarkan sebarang pengetahuan, dan ia menurut tiap-tiap Syaitan Yang telah sebati Dengan kejahatan”.  (QS.22 Al Hajj, ayat 1-3)

Umar bin Khattab mengatakan “Mungkin engkau dalam kehidupan, satu kali akan timbul kemalasan.”. Malas boleh. Shalat lima waktu jangan ditinggalkan. Modal utama ini jangan sampai hilang. Guna mendidik kekuatan jiwa menghadap kepada Tuhan. Dengan shalat pakaian taqwa dapat diraih dan dengan itu kita akan ditempa menunggu panggilan menghadap Tuhan di ujung hidup dunia ini, untuk melalui hidup yang kekal.

 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ المُؤْمِنَاتِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ.

رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ.